Rabu 16 Agustus 2006, tepatnya di gedung PKM Unand Padang, pukul 5 sore, saya sedang malakukan akitifitas yang biasa dilakukan disana setiap hari Senin, Rabu dan Jumat mulai dari pukul 4 sampai 6 sore (kadang sering molor sampai maghrib). Dan hari itu menjadi tak biasa karena ada sesuatu yang tak biasa juga yang saya dapatkan.
Aktifitas yang rutin saya lakukan itu adalah latihan bela diri yang negri asalnya China, yaitu Wushu. Kalau mau bercerita sedikit mengenai bagaimana saya bisa aktif latihan di unit beladiri wushu yang tergabung dalam UKM Pandekar UNAND ini, sebenarnya secara nggak sengaja. Waktu semester pertama saya di bangku kuliah, saat main ke rumah teman, saya liat mereka (dibaca: Yori & Panjul, red) lagi siap-siap pergi latihan trus saya minta ikut, rencana awalnya cuma mau liat doank.. akhirnya saya putuskan untuk nyoba tapi jadinya malah ketagihan.
Karna tujuan saya pergi bertanding jadi saya harus jaga kondisi badan sampai pertandingan selesai, jadi kita berdua putuskan untuk tidur saja sepanjang perjalanan. Setelah cari posisi enak dan mata dipejamkan, tapi tubuh tak mau ikut tidur, terlalu banyak hal-hal baru hari ini yang telah dilalui dan pikiran saya berpikir what's next. Jam sudah menunjukan pukul 9, kereta api ini diperkirakan sampai di stasiun Tawang Semarang pukul 1-2 dini hari. Akhirnya saya bangun lagi dan sms-an dengan Suheng up date status terkini (waktu itu belum ada Facebook dink), juga dengan Rika (teman wushu), dia sedang di Jakarta juga lagi tugas magang di DepLu. Rika rencananya mau numpang latihan wushu di Senayan (nama sasananya Inti Bayangan) ada Sherina, Widi ABthree, Surya Saputra (artis denk) yang latian disana.
Pertandingan
Sabtu pagi gilirannya Ajib. Pukul tujuh, kita sudah berada di lokasi, kali ini saya yang jadi official Ajib, jadi saya suruh (tepatnya menyemangati) ajib pemanasan dan latihan di lapangan tanding sekalian penyesuaian dengan karpet standard wushu international. Tebalnya 5 cm sangat empuk, dan aman jika kita terjatuhpun, kecuali kalau gerakan yang fatal bisa patah juga. Ajib yang kelihatannya tegar, sambil latihan sama para pewushu lain yang akan tampil tiba-tiba ngomong “aku gak jadi turun aja deh”, guabraaak.. “udah sejauh ini kok mau mundur, dan suheng pasti marah kalau tau” saya bilang. Dan setelah dengan sedikit motivasi dan gak mau malu sendiri akhirya Ajibpun tampil. Set.. set.. set.. 1 menit 18 detik, Ajib selesai memainkan jurus yang dirangkainya sendiri. Dan sekarang menunggu hasil perolehan nilainya, sedikit kecewa sih, tapi Ajib terima aja.
Medali Pertama
Setelah itu kami menunggu untuk penyerahan medali, sayapun maju untuk mengambil perunggu. Selesai tanpa mengikuti acara penutupan kita langsung cabut untuk mutar-mutar kota semarang, gak jadi ke Jogja, Semarangpun juga oke. Tujuan yang dicari lumpia tentunya, makanan khas mereka kita makan 2 pieces masing-masing, enak.. rasanya mirip resoles ada daging ayamnya, kebetulan kita pilih yang ayam, ada juga yang pakai daging sapi atau hanya sayuran aja. Pokoknya maknyus deh. Pengennya bawa lumpia pulang buat oleh-oleh, tapi ternyata gak tahan lama, jadi batal niat ngasih oleh-oleh lumpia. Kita beli wingko babat aja akhirnya. Wingko babat kayak kue kering, parutan kelapanya terasa pas saat dikunyah. Sekarang ini sudah banyak inovasi dari pengolahnya ada berbagai rasa; coklat, durian, tapi saya suka yang original.

Capek mutar-mutar dengan bawaan yang ribet, kamipun memutuskan ke stasiun Tawang aja meskipun waktu keberangkatan masih lama. Kita menikmati stasiun ini dulu, penampilannya memperlihatkan kalau umurnya sudah tua, tapi masih terihat cantik dan classic. Di dalamnya banyak pedagang asongan dengan makanan-makanan khas jawa, tahu bacem, tempe bacem, gudeg, dan banyak lagi nggak tau apa nama makanannya. Kereta kita masih 2,5 jam lagi jadi kita asikin dulu aja.
Panggilan untuk kita akhirnya datang, masuk gerbong yang dipandu pramugari nan cantik. Sepanjang perjalanan kita tidur karna udah kecapekan. Sampai di stasiun Gambir pukul 4.30 WIB, dengan waktu yang sempit saya dan Ajib berpamitan dan saling titip salam (eh ajib aja kali yah), lalu sayapun langsung menuju ke bus Damri dan menuju ke bandara Sukarno-Hatta untuk lanjut ke Padang. Akhirnya landing di Padang. Setelah pengambilan bagasi yang kembali ribet, keluar dari pintu kedatangan ternyata teman-teman saya sudah menunggu, waah berasa orang penting hahaha. Saking semangatnya bahkan Dona (teman wushu) kecelakaan waktu buru-buru menuju bandara (maafkan yah Na..). Setelah itu sayapun digiring ke GOR H. Agus Salim menemui pelatih-pelatih saya yang lainnya. Meskipun hasil yang saya bawa pulang tidak terlalu memuaskan tapi alhamdulillah mereka tetap senang. Setelah berehat sebentar NEXT pertandingan berikutnya “PORPROF SUMBAR” menunggu, nggak ada waktu istirahat lama-lama lanjut lagi latihan.
Bersambung ke note berikutnya.. cekidot..