Tampilkan postingan dengan label Melaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melaka. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2013

Siak Sri Indrapura, the royal site

Berawal dari blog walking tiba-tiba saya kepincut sama kerajaan Siak Sri Indrapura, hasil yang saya temui dari googling internet membuat saya makin jatuh hati dan penasaran. Alhamdulillah Allah ngasih kesempatan untuk mengunjunginya pada Maret 15, 2013. Bisa dilihat disini tentang sejarah Kerajaan Siak, saya takut salah kalau cerita soal sejarah.

Sebelumnya saya minta maaf karena kualitas foto yang kurang baik, saya bawa camera DSLR tapi lupa bawa memory, jadi saya maksimalkan HP yang ada aja, semoga bisa diterima.

Saya berangkat dari Rengat INHU, berdasarkan direction yang ada di GPS perjalanan akan menempuh sekitar 5.30 jam, melalui daerah Pangkalan Kerinci. Saya menemui jalan rusak di beberapa titik tapi bisa dimaklumi karna ini adalah kabupaten baru jadi mereka masih berbenah disana-sini terutama infrastruktur. Kabupaten Siak ini meskipun masih muda tapi sangat kaya. Mereka membangun jembatan indah melintasi sungai Siak untuk memperlancar akses dengan APBD mereka sendiri. Jalan menuju Siak kebanyakan luruuus aja dan naik turun seperti naga, kadang berasa naik roller coaster.

Jalan raya Siak kebanyakan lurus dan bergelombang seperti naga, naik turun
Ketika memasuki gerbang Siak yang ditandai dengan Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, nama dari Permaisuri Sultan Syarif Kasim II yang megah dan indah. DI ujung jembatan disambut denan Masjid Raya Siak yang sepertinya bangunan baru juga tak kalah megah dan indah. Ruas jalan yang besar dan mulus saya mulai merasakan geliat kabupaten ini akan menjadi maju dalam waktu dekat ini. Namun sayang beberapa penunjang lainnya masih belum ada seperti SPBU, jaraknya cukup jauh dari kota.

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah
Mesjid Agung Siak dari Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah
Setelah keliling-keliling nyari SPBU pas dapat ternyata udah tutup pula karna mau shalat Jumat, terpaksalah balik kanan lagi, mana jauh dari kota. Shalat Jumat saya kembali lagi ke Masjid Agung Siak, sekalian ngerasain suasana masjid megah nan indah ini. Interior Masjidnya terlihat kurang cahaya mungkin sengaja tidak dinyalakan supaya lebih khusyuk. Ruangan utamanya tanpa tiang penyangga sehingga terlihat makin luas.

Masjid raya Siak

Masjid Raya Siak
 Keluar Masjid saya disuruh menggila, sendal saya sepertinya ketukar ada yang salah ambil, ada satu sendal tinggal tapi saya malas makainya jadilah saya nyeker dan jingkrak-jingkrakan sampai ke mobil karna lantainya puanas bangeeet.. :D :D

Okay show must go on, ohya dari arah Bunga Raya tempat saya ketemu SPBU yang jauh itu saya menemukan beberapa masjid yang cantik juga, salah satunya ini, masjid ini terintegrasi dengan Pesantren yang ada di sebelahnya.


Setelah selesai shalat Jumat, cari makan, lumayan mahal makan disini dan saya nemu soto melayu *baru tau pas pulang dari Siak dari teman kalau masakan melayu itu mahal2, pntes :D. Tujuan saya selanjutnya adalah mencari pusat keramaian dan situs-situs bersejarah yang menjadi tujuan utama ke Siak. Udah muter2 gak nemu keramaian ternyata emang kotanya sepi anteng damai aja.

Sekilas saya serasa lagi berada di Malaysia karna suasananya mirip banget, arsitektur bangunannya, bahasanya, trus nuansa kota yang multi etnic, cuma di Siak gak ada India saya jumpai entahlah mungkin lagi sembunyi tau saya datang hahaha.

Gedung Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
Rumah Dinas Bupati Siak, di depannya ada tugu songket, dan bangunannya masih dengan nuansa Islam dan Melayu
Sebenarnya ada beberapa bangunan modern ala melayu nan megah lainnya seperti gedung Bupati dan gedung DPRD yang juga dengan nuansa Melayu Islam nan tak kalah megahnya tapi berhubung panas dan saya gak pakai sendal jadi saya urungkan saja karna mau ke pasarnya dulu nyari sendal gak lucu nanti saya ke Istana nyeker.. :D

Ketemu pasar (pasarnya diluar expectasi saya, malah terlihat seperti 2 mingguan yang ada dekat kampung saya karna sepi) yang didominasi bangunan tua yang terawat dan dihuni oleh warga tiong hoa yang sudah tunrun temurun disana. Pasarnya gak ramai, kebanyakan menjual barang kebutuhan sehari-hari, rapi bersih, tua, tiong hoa, seolah-olah saya berasa berada di film hitam putih, tapi sangat menarik, saya turun sebentar dan mengambil beberapa foto, dan rasanya saya jadi diliatin orang2 mungkin karna gak pakai sendal hehe ngacir lagi masuk mobil.

Lucu tapi menariknya disini semua papan nama baik toko, gedung atau bangunan yang memakai papan nama menggunakan 2 bahasa minimal, tulisan latin dan arab melayu, beberapa toko tiong hoa juga menggunakan aksara china jadi 3 tulisan, baik itu Islam, Tiong hoa, kristen semuanya begitu.

salah satu nama toko di pasar Siak
Pasar Siak yang terlihat sepi, bersih, rapi dan classic
Akhirnya dapat sendal, dan dari sini ke Istana Siak juga dekat, meskipun udah pakai sendal tapi saya pengen jikrak-jingkrak lagi kegirangan akhirnya sampai juga ke Istana Asserayah Hasyimyah yang berati Matahari Timur, tiket masuknya Rp 3000 saja dan tambah Rp 1000 untuk tempat penitipan sendal, selamat menikmati jamuan Istana dan memasuki mesin waktu seabad yang lalu.

Gerbang memasuki komplek Istana

Lambang Kerajaan
Singgasana Raja yang terbuat dari Emas 24 karat
Mahkota Raja juga dari emas 24 karat
Ruang makan, tampak begitu mewah
Ruang pertemuan
Patung Sultan yang dibuat di Jerman terbuat dari batu granit

Komet, Kotak musik yang hanya ada 2 di dunia, yang satunya ada di Jerman

Patung Wilhelmina Queen, Sultan diundang saat penobatan Ratu
Tangga menuju lantai 2 yang penuh dengan ukiran indah dan langsung didatangkan dari Holland
Tempat penympanan uang "Kampia" dalam bahasa Minang diukir dengan kaligrafi arab yang sangat indah

Lampu kristal yang indah menghiasi ruang tengah istana, menggunakan minyak karna waktu itu belum ada listrik yaa..

Salempang dan baju kebal yang penuh dengan kaligrafi arab dan sepertinya ada ayat Alquran juga
Perlengkapan makan kerajaan dari cristal dan berukirkan lambang kerajaan, indah sekali



Elang juga menjadi lambang kerajaan dima terdapat pada semua sudut sisi bangunan istana
Benar-benar keren saya membayangkan bagaimana dulu saat masa jayanya kerajaan ini, dan saat membayangkan itu tiba-tiba ada guide yang seolah2 tau apa yang saya pikirkan trus menjelaskan mengenai sejarah dan berbagai benda2 sejarah yang ada, makin keren. Untuk sejarah Kerajaan Siak dapat dibaca disini, HARUS BACA, saya makin suka karna terkait juga dengan kerajaan Pagaruyung Minangkabau, kerajaan Johor dan Malaka.

Puas disini sampai diusir keluar karna jam berkunjung sudah habis, saya lanjut cari masjid untuk shalat Ashar, ketemulah mesjid ini, gak tau bacanya :D di Siak sepertinya mesjidnya dekat2 dan bagus2.


Gak bisa baca nama Masjidnya :(
Lanjut lagi mutar2 karna masih banyak situs2 yang belum dikunjungi, tapi sayang waktunya sudah sore kami memikirkan untuk balik ke Pekanbaru meskipun awalnya saya pengen nginap disini mau melihat suasana malamnya tapi berhubung sepi aja jadi yaa balik ke Pekanbaru aja, tapi sambil lewat saya ketemu kuil warga Tiong Hoa yang udah tua banget tapi terlihat masih kokoh


Tak jauh dari sini juga ada gereja tua tapi sekarang diurus oleh HKBP, maaf saya gak ambil fotonya.  Lanjut lagi saya ketemu dengan pelabuhan lama Siak yang biasa dipakai untuk berdagang ke Singapura, pasarnya Siak dulunya ke Singapura dan Malaka, mungkin ini terkait juga dengan sejarah panjang awal berdirinya Kerajaan ini. Jalan lagi ada Masjid kerjaan namanya Masjid Sahabuddin, berasal dari Syahad daerah asal raja Siak.

Masjid Kerajaan Sahabuddin, sudah 3 kali mengalami beberapa pembaharuan tampa menghilangkan keasliannya

di sebelah Masjid Sahabuddin terdapat makam Sultan berserta keluarganya, bangunan ini tergolong masih baru diinisasi dan didanai oleh harta Kerajaan dan sumbangan rakyat siak yang masih mencintai Rajanya.

Saya gak masuk meskipun sebenarnya diperbolehkan bagi turis untuk masuk, foto di depannya aja :)
Interior Masjid Sahabuddin

Mihrab Masjid Sahabuddin
Akhirnya saya maghrib disini, mungkin karna siak sepi jadi jamaah mesjid mengetahui ada orang baru datang ke masjidnya, jadilah saya terlihat seperti turis, tapi ada baiknya saya dapat teman baru disini, salah seorang jamaah yang berasal dari Selat Panjnag, dia PNS disini dan mengaku sangat suka tinggal di Siak karna merasa damai dan tenang beribadah, mungkin lebih ke kualitas hidup kali yaa..

Baiklah waktunya bergerak lagi, jalur yang akan kami tempuh belum tau akan seperti apa, jadi agak ngeri juga kalau nanti terlalu malam.
Sampai jumpa diperjalanan berikutnya..


Kamis, 28 Februari 2013

Malaka, Ujian Iman, Kampung Morten

Hidup di Indonesia tepatnya di Minang yang notabene mayoritas Islam membuat saya gampang menemukan mesjid dimana-mana. Apalagi kalau Jumat, biasanya jam 11 pengurus mesjid sudah membunyikan muratal Quran melalui pengeras suara mesjid, yang seakan mengundang dan memanggil-manggil jamaah untuk segera ke mesjid.

Perjalanan saya kali ini sangat menguji iman. Kebetulan hari ini hari Jumat. Sejak pagi saya jadi gak terlalu banyak bicara karna kepikiran banyaknya sunnah hari Jumat yang tidak bisa saya amalkan hari ini :(

Awalnya saya pikir Melaka dengan semua latar belakangnya adalah sebuah kota yang multi etnic masak sih nyari mesjid aja susah..?? Waktu itu menunjukan jam 11 waktu setempat, teman saya Agus sudah mengingatkan untuk shalat Jumat, tapi berhubung waktu shalatnya masih lama jadi saya santai aja dan bilang ntar aja jam 12an kita cari mesjid terdekat.

Pukul 12 GMT+8, saya masih sempat makan cendol sambil menikmati pemandangan pinggir sungai Melaka nan cantik, lalu saya melihat ada 2 orang keturunan arab yang mengenakan baju qamis arab juga sedang makan cendol. Dalam hati saya merasa tenang, tinggal ngikutin orang ini aja ntar ke Mesjidnya.

12:30 GMT+8 tiba-tiba 2 orang arab tadi hilang, ooh noo.. saya mulai agak panik, lalu mempercepat langkah menuju mesjid terdekat, pengalaman sebelumnya saya pernah menemukan mesjid di daerah pecinan, mesjid tua yang didirikan oleh kaum keling india jaman dulu, tapi sesampai disana saya heran dan bertanya-tanya, ini Jumat udah selesai atau gimana..?? *makin panic. Sekilas saya melihat 2 orang memakai baju koko, itu pertanda kalau mereka Muslim, langsung saja saya tanya "shalat jumatnya sudah selesai atau mesjid ini tidak menyelenggaran..??", mereka sedikit tergesa-gesa menjawab kalau mesjid yang menyelenggarakan shalat jumat hari ini ada di Kampung Morten. Melihat saya bingung mereka langsung menjelaskan dimana itu Kampung Morten, saya hanya mengira-ngira dimana keberadaannya. Beruntung saya tidak sendiri, ada jamaah lain yang sudah terlanjur ke Mesjid Kampung Keling tersebut.

Hebatnya, saya salut dan merasa inilah ukhuwah islam, melihat kami berdua kebingungan dan membayangkan jarak yang haru ditempuh dengan berjalan kaki menuju kampung morten mereka meneriaki jamaah lain tersebut dan menanyakan siapa yang sendiri dan bisa memberikan kami tumpangan..?? saya salut, padahal gak kenal, disini terasa indah ukhuwah islamiah itu. Meskipun akhirnya tetap jalan kaki bersama jamaah lain yang sudah tau lokasi mesjidnya, namun saya tetap merasa bahagia. Sepanjang jalan kami memberi tahu jamaah lain kalau Jumat kali ini dilaksanakan di Masjid Kampung Morten, "kampung morten.. kampung morten.." tiba-tiba Kampung Morten berasa menjadi tempat yang paling dicari.

Matahari tepat diatas kepala, berjalan kaki sejauh kira-kira 5 km membuat kami sampai di mesjid mandi keringat. Masjidnya tidak seperti yang saya bayangkan, kecil saja seperti kebanyakan mushalla di Indonesia, dan jamaahnya sudah ramai sampai keluar mesjid, beruntung kami belum telat, langsung wudhu, dan masih sempat untuk shalat sunnah dulu sebelum khutbah jumat. Alhamdulillah.. semoga tiap langkah kami dihitung sebagai penggugur dosa, amiin..

Gerbang Kampung Morten

Akhirnya Shalat Jumat bisa terlaksana dengan khitmad. Sempat terlintas untuk memanfaatkan status musafir saya sebagai alasan untuk tidak shalat jumat karna tidak menemukan mesjid, untunglah Allah menunjukan jalan, Allah maha baik.

Masjid Kampung Morten
Kampung Morten
Selesai Jumatan saya sempat motret Kampung Morten yang terlihat masih sederhana dibandingkan sekitarnya yang didominasi gedung bertingkat. Sepertinya kehadiran kami sedikit menjadi perhatian bagi jamaah lain, mungkin mereka hafal dengan jamaahnya dan kami terlihat asing, saat kami berpapasan dengan jamaah lain mereka memberikan senyum yang sangat ramah, beberapa menanyakan kami darimana? Tiba-tiba saya merasa sangat bahagia menjadi seorang Muslim, betapa indahnya ukhuwah islamiah itu. Pas mikir panas-panasan lagi jalan kaki balik ke bangunan merah Melaka langsung bikin lemas lagi.. penaat laa took.. hahaha.. tapi ada untungnya lagi.. kami nemu yang seru.. di note selanjutnya yah pemirsaah.. :D

Homestay, mungkin ada yang nanti yang mau menikmati suasana kampung Morten

Rabu, 23 Januari 2013

Backpacking Super Irit nan Gokil

Ceritanya pada traveling saya kemaren ke Malaysia (lagi), tersusunlah rencana yang sangat panjang dan padat *halah. Dalam waktu 4 hari saja saya berniat mengunjungi 4 kota yang jaraknya lumayan jauh rata-rata 300an Km dengan lama waktu perjalanan sekitar 5-8 jam, lumayan banget bikin pantat pegal.

Jadi waktu itu karna mikir ngirit waktu dan tentunya juga dana saya memilih untuk melakukan perjalanan malam hari dari Kuala Lumpur menuju Penang, pertimbangannya saya gak harus bayar penginapan juga gak ngabisin waktu siang yang bisa saya gunakan untuk explore suatu daerah, jadilah menggunakan Bus terakhir tujuan Penang berangkat jam 12 malam GMT+8. :D hehe

Sedikit cerita soal Bus malam ini sebenarnya udah di luar jam Resminya, kalau beli tiket online atau melalui counter yang ada di terminal Puduraya Bus terakhir berangkat jam 10:30 waktu Malaysia, saya dapat info soal Bus ini dari supir taxi yang mengantar saya rencananya waktu itu mau nyari penginapan karna mikirnya udah gak ada lagi bus ke Penang jam 12 malam gitu, thanks untuk pak supir taxi, ohya tiket Bus ini 40 RM sedikit mahal dari harga tiket biasanya 35 RM. tapi saya bersyukur juga dapat bus malam ini sebab kalau saya berangkat jam 10:30 bakal sampai di Penang jam 2-3 pagi, nanggung buat nyari penginapan juga kelamaan buat ngemper di terminal. Bus yang saya tumpangi ini merapat di Terminal Sungai Nibong pulau Pinang jam 6 pagi pas masuk waktu Subuh,

Ngemper pertama :D
 Niat awalnya sih nyari Masjid atau Mushalla buat subuhan dulu sekalian bersih-bersih muka dikit biar gak terlalu keliatan kucel, tapi pas saya lihat-lihat sign "tandas, surau, kaunter" dan memberi tanda panah ke atas yang maksudnya lantai 2 saya langsung bergerak, dan bersyukur sekali ada fasilitas buat mandi dengan membayar 1 RM. Padahal dari rumah udah siap-siap bawa tissue basah persiapan kalo gak nemu tempat mandi, hahaha..

Oke seharian muter-muter George Town kayaknya udah selesai, dan kepikiran langsung berangkat ajalah ke tujuan berikutnya malam ini, yak lagi-lagi perjalanan malam, demi irit penginapan dan waktu, sedikit berdosa sama kaki yang bengkak kelamaan di bus. Akhirnya malam itu dengan bus terakhir kembali saya menuju Melaka, perjalanan memakan waktu 8 jam, 45 RM, sampai di Melaka sekitar jam 6 pagi, pas waktu Subuh lagi. Tapi kali ini di terminal Melaka Sentral gak ada fasilitas mandinya, alhasil terpaksa mandi di toilet, gak usah dibayangin ya pokoknya gitu deh, serunya kalau pas diinget-inget lagi, pas ngejalaninnya pengen tobat saat itu juga.. hahaha..

Ngemper di terminal, belum ada yang pada buka yaudah tidur dulu disini :D

demikianlah kira-kira kegilaan saya di traveling kemaren.. :D

Senin, 28 Februari 2011

Jalan-jalan Jalan eps Melaka

Sepertinya tubuh saya sudah terbiasa dengan ritme rutinitas setiap hari, jadi seperapa begadang dan capeknya pagi tetap kebangun dan udah gak bisa lagi tidur. Setelah semalam tepar gak tau diri pagi ini terasa kembali segar dan sangat bersemangat untuk berpetualang di kota yang udah lama saya ingin kunjungi yaitu Melaka.

Langkah pertama pagi ini berhubung penginapan gak nyediain sarapan jadi kita terpaksa nyari makan keluar, beruntung restoran arab yang direkomendasikan si papa ternyata dekat dari penginapan hanya berjarak 1 blok aja. Menu kali ini nasi goreng dan teh tarik, saya cari aman karna kapok sama makanan malam sebelumnya di LCCT. Dan bener ternyata cukup enak makan disini, pengunjungnya juga ramai. Dari sini saya mulai merasakan aura kota Melaka yang gak terlalu gede, panas, masih terasa kalau kota ini pernah jadi sangat sibuk di jaman dulu. Jalanannya tidak terlalu ramai dan banyak orang berjalan kaki dan bersepeda.
Salah satu tempat hiburan di sudut kota Melaka, Disco Dangdut. hahaha..

  Selesai makan kita jalan sebentar lihat2 sekitar sebelum balik ke penginapan, rencananya sih nyari map, tapi udah jauh jalan masih gak ketemu hingga kita sampai di Menara Taming Sari. Disini kita baru tau kalau Melaka sepertinya gak terlalu besar dan cukup untuk dijelajahi sehari. Akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan sekalian check out dan berniat setelah selesai explore Melaka seharian sorenya kita lanjut ke Seremban.


Daerah Taming Sari, ada menara yang bisa kita naikin, trus di sebelah ujung juga ada mobil ampibi yang nanti bakal diajak keliling Melaka trus terakhir nyebur deh ke Selat Melaka.
Jadilah kita pamitan sama pemilik penginapan yang Ramah, trus menyandang backpack masing2 dan menjelajah kota Melaka. Dimulai dari Dataran Pahlawan, di ujungnya ada mall besar juga di seberang jalannya, disisi lain ada toko branded di pinggir jalan. Meskipun begitu nggak ngaruh buat saya karna tujuannya adalah "jalan" bukan shopping. Jika kita berdiri dari mall melihat ke arah dataran pahlawan disebelah kanannya ada St Francis Institution, berdiri sejak 1880, sekarang sepertinya digunakan untuk sekolah dan disebelahnya ada gereja. Kita lanjut lagi jalan dan ketemu serombongan turis2 rame ada dari eropa, jepang, china, juga Indonesia. Dan saya menyimpulkan berati disinilah dia tempat keramatnya alias bangunan tua yang telah diakui PBB sebagai world heritage.

Saya rasa foto akan lebih banyak bercerita..
awalnya saya kira ini Mesjid, ternyata museum hahaha..
 
Melaka Bandaraya Bersejarah Malaysia, Disini semuanya bermula, Lahirnya sebuah Negara
Dari sini sekitar seratus meter ada bangunan tua lagi saya lupa entah ini benteng atau gereja, tapi kalau saya tidak salah ini gereja.
Jika kita melihat ke bangunan tua ini tepat di belakang saya ada bangunan bersejarah lagi yaitu istana kerajaan Melaka. 
Istana Kerajaan Melaka
Setelah mulai gosong panas2 poto disini kita mendaki tangga sekitar 100 meter kepuncak bukit, disana juga ada bangunan tua, tapi lagi2 saya lupa itu bangunan apa.. hehe..
tangga dari Istana Melaka ke banguna tua bekas gereja di puncak bukit
hihihii.. ada penampakan disini

bangunan tua bekas gereja yang ada di puncak bukit
suasana di dalam bekas bangunan gereja di atas bukit

Nah selesai disini kita turun lagi ke bawah, dan ujung tangganya barulah icon of Melaka yang sering saya lihat di brosur2 promo wisata Melaka yaitu Stadthuys,
bagian belakang Stadthuys, didalamnya ada museum
Waktu celingak-celinguk di bagian dalam bangunan ini saya kaget ketika ada bunyi ketok2, ternyata itu counter tempat bayar untuk masuk ke dalam, langsung ngacir hehehe.. 
inilah dia icon of Melaka, christ church yang dibangun oleh Belanda
Disini saya sempat mencar dengan Haris prediksinya pasti dia bakalan sekitar situ aja nyariin aksesoris, jadi saya sibuk nyari tempat dengan angle terbaik buat motret, sreet sreet sreet. Dapat ide untuk ngajak haris buat poto berdua di tempat ini, kan momentnya lagi bagus dengan backgroun icon Melaka dan kita jarang poto berdua karna ribet minta tolong orang motretin. Ternyata udah keliling2 saya gak nemu si Haris, malah waktu lagi celingak-celinguk saya dikagetin sama penjual aksesoris yang meletakan ular karet dagangannya di tengah jalan, aaaarrrrgghh buseeet dah, ngos2an, saya putus asa akhirnya iseng nyoba sms kali aja pulsanya masih kuat, Alhamdulillah itu sms terakhir saya disana, fhuuuh. 

kayak beneran di Belanda yaa..??
Kita udah mulai kecapean, mau nyari makan dulu rencananya, tapi liat ada replika kincir angin belanda saya maksa haris lagi buat dipoto, sret sret sret, beres. kayaknya kali ini Haris beneran udah jengah liat saya sibuk motret mulu, akhirnya kita makan cendol di pinggir sungai yang membelah dua kota Melaka, sangat bersih dan indah. Saya memperkirakan inilah pusat bandaraya melaka dulunya. Diseberangnya pecinaan yang terkenal dengan Jonker Street nya, sekarang sudah jadi tempat wisata banyak menjual benda2 kuno juga. Dari tempat saya duduk makan cendol ini saya bisa melihat museum laksamana Cheng Ho, kata Haris di Surabaya juga ada museumnya, dia adalah saudagar china yang menyebarkan Islam. Selagi asik makan cendol tiba2 ada yang lewat di sungai boat wisata kayaknya, diisi oleh para turis, waah asiknya, saya jadi mikir kayaknya di Muaro Padang juga bisa dibikin kayak gini deh senadainya saja bisa lebih bersih dan tertip, hmm lagi2 secara gak sengaja membandingkan dengan negri sendiri.
river cruise, Melaka
Dari sini kita lanjut mengarungi Jonker Street, niatnya sih nyari makan tapi gak nemu, sebenarnya takut juga ntar dapat makanan yang non halal. Jalan muter2 akhirnya ketemu mesjid, dan saya langsung girang soalnya ini mesjid bersejarah juga, saya pernah baca sebelumnya di internet tentang mesjid ini. Sebuah mesjid terletak di tengah2 perkampungan ccina, bersebelahan dengan klenteng. Inilah Mesjid Kampung Keling, kalau nggak salah ceritanya dulu warga India tamil lah yang membangun mesjid ini disini dan masih bertahan sampai sekarang, kalau saya lihat memang masih ada unsur2 india pada arsitektur bangunannya. Kita Shalat Zuhur sekalian menjamak Ashar disini karna setelah ini bakalan diperjalanan menuju Seremban. Haris malah sempat tidur sebentar disini, sayang saya orangnya gak bisa tidur kapan dan dimana saja, harus dapat mood tidur dulu, halah.
Mesjid Kampung Keling Melaka
Interior Mesjid Kampung Keling
tepar, numpang tidur di mesjid

Selesai berehat sebentar di Mesjid kampung keling kita lanjutin jalan lagi tujuannya balik lagi ke Stadthyus untuk naik bis ke Melaka sentral untuk melanjutkan ke Seremban. Tapi kita gak melewati jalan masuk tadi, mutarin kawasan pecinaan dan melewati pinggir sungai melaka nan indah, meskipun waktu itu panas menyengat tapi nikmatin aja, saya udah langsung gosong dihari pertama liburan. Sebelum naik bus kita dapat bonus dari korea hehehe *blushing.
bonus sebelum ninggalin Melaka, padahal baru aja dari Mesjid ckckck..

Setelah nanya sama nenek2 yang jualan minuman di pinggir jalan depan Stadthyus kita disuruh milih bus no 17 kalau mau ke Melaka Sentral. Busnya mirip mikrolet di Jakarta, udah tua, apa menyesuaikan sama kotanya juga ya? Ternyata menuju melaka sentral itu jallannya muter dulu sampe ke perumahan penduduk, gak masalah juga sih sekalian tour dulu kita keliling Melaka hingga pinggirannya.

Nyampe di Melaka Sentral udah jam 4, disini juga niatnya pengen makan dulu karna dari tadi belum sempat2 makan. tapi pas nanya bus ke seremban ternyata Transnasional lagi dan udah mau berangkat, bahkan tiketnya dibayar ntar aja di bus. Yaudah lari2an lagi biar gak ketinggalan, alhasil di bus kita berdua tepar.. Sukses seharian ini beneran jalan-jalan jalan kaki keliling Melaka sampe gempor.

udah dulu ahh ngantuk, besok lanjut lagi ceritanya yaa..