Tampilkan postingan dengan label Bukittinggi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bukittinggi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

Parabek nan Damai Sejak Dulu

Seperti weekend biasanya saya selalu ngacir pulang kampung ke Bukittinggi, tapi kali ini rasanya agak sedikit berbeda karna saya sambil mempersiapkan rencana untuk bulan depan, bukan traveling lagi tapi ini masalah kerjaan.

Anyway, saya selalu riang gembira ketika meluncur menuju kampung, duduk dalam bis paling pinggir samping jendela yang besar memandangi pemandangan sawah dan danau. Waktu itu juga lagi hujan gerimis, terasa makin nikmat memandangi air yang menari-nari di kaca, ditambah waktu itu ipod saya sedang memainkan lagu2 ber-genre emo,  wuiiih jadilah saya berasa berada didalam sebuah film-film drama gitu (lebay hahaha).

Sebenarnya begitu sampai di rumah saya juga gak punya planning apa2 sih untuk weekend, semangatnya mikirin pulang aja hehe. Ehh tapi weekend ini sahabat saya Haris katanya lagi di Pekan Baru, dan kalau sempat dia akan pulang kampung juga. Baiklah saya makin senang karna ada teman buat keluar.

Ritual yang biasa saya lakukan jalan dengan haris kalau waktunya mepet cuma sehari palingan main ke pasar atas-nya Bukittinggi, hunting beberapa barang, trus makan di H. Minah sama teh pak Hau sambil berbodoh2 dan ngobrolin tentang nikah, gak tau kenapa kalo dengan haris saya sering banget ngomongin tentang nikah. Pas pulang menuju rumah haris tiba2 saya dapat ide untuk shalat maghrib di mesjid Parabek, Parabek adalah madrasah tawalib swasta yang sangat terkenal, lulusannya banyak juga yang melanjutkan ke Univesitas Al Azhar Mesir dan melahirkan orang2 besar lainnya yang sangat berpengaruh.

Parabek ini sebenarnya dekat banget dari tempat kita (rumah Haris dan saya) tapi karna selama ini saya gak terlalu tertarik soalnya disitu isinya anak santri semua, kalo sekarang tertariknya berhubung saya lagi berusaha tobat dan sekaligus mencari wanita muslimah (hahaha ketauan niat aslinya) jadi yah pengen nyobain sensasi shalat di tengah2 para santri.

Setelah pamit sama keluarga Haris kita muter2 dulu, kebetulan waktu shalatnya juga masih lama, sekalian manyilau (dibaca: menikmati pemandangan). Dari luar terlihat mejidnya memang bangunan lama tapi masih bagus dan kelihatan sangat terawat, dari luar kita bisa mengintip interiornya yang sedikit keliahatan mewah melalui pintu masuknya. Setelah 3 kali muter2 baru para santrinya keliatan udah ramai dan kitapun ikutan merapat. Saya mulai merasakan sesuatu, dari sudut penglihatan saya melihat para santri ini memerhatikan kita, ketahuan banget kalau kita memang orang asing disini. Semua pada pakai baju muslim dan sarung sementara kita t-shirt + jeans + jaket.

Memasuki mesjid saya sangat merasakan sensasi yang keren, saya langsung penasaran dengan sosok Syekh Ibrahim Musa yang mendirikan pesantren ini. Interiornya ketahuan banget kalau ini adalah mesjid tua, tetapi sangat terawat, dan aksen2 di dalamnya dipercantik dengan gorden dan pencahayaan yang bagus, yang makin menarik hati, hebaat, saya jadi pengen masuk pesantren.

Menjelang shalat para santri sudah rapi membuat syaf, kalau biasanya saya melihat jamaah duduk berserakan, kalau disini mereka langsung tertib merapatkan dan merapikan syafnya. wuiihh.. Imam dipimpin oleh seorang yang berperawakan arab atau india saya lihat, berbaju gamis dalam melebihi mata kakinya. Selesai shalat dzikir dan doa dipimpin oleh santri yang ada di belakang imam, masih kecil, kira2 berumur 11 atau 12 tahun tapi bacaannya bagus, saya meresa kena tampar. Sayup2 saya perhatikan ternyata santri yang lain mengikuti bacaannya, saya menyimpulkan memimpin dzikir dan doa ini merupakan tugas bergilir seperti piket gitu. kalau saya dapat giliran waktu itu mungkin mereka bakal timpukin saya kali yah.

Keluar mesjid saya sempat2in nyuri poto interior mesjidnya, pas nyampe motor ee mati lampu, si Haris yang lagi mainin gadget barunya ngambil inisiatif jadiin senter biar para jamaah gak salah nyariin sendal mereka. (semoga makin berkah tuh gadget baru)

interior mesjid Parabek

Pas lagi (masih) berbodoh2 dengan gadget baru tiba2 imam tadi lewat di depan kita sambil ngucapin assalamualaikum antara ada dan tiada, trus berlalu begitu saja. Yasudah kita juga ngacir deh..

Minggu, 25 Juli 2010

Pandai Sikek

Pandai Sikek kalau diBahasa Indonesiakan mungkin artinya pinter nyisir yah..??

Weekend saya kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Kebetulan ada teman saya yang pulang kampung, kita sama-sama suka traveling dengan model backpack jadi saya semakin semangat untuk menikmati weekend ini bersamanya. Biasanya saya sering males keluar menikmati alam kalau gak ada teman, ntar malah keliatan kayak turis oon di kampung sendiri. Tapi saat ini kita nggak backpack karna tujuannya dekat dengan rumah, ntar malah keliatan oon.

Setelah mempertimbangkan beberapa alternatif antara ke Puncak Lawang, Maninjau atau Pandai Sikek, akhirnya kita putuskan tujuannya Pandai Sikek aja. Keputusan itu dipertimbangkan dengan expection mendapatkan pemandangan kampung yang tradisional dan sukur-sukur ketemu “bidadari”. Teman saya terinspirasi dengan film KCB, hehe..

Sebelumnya kita udah tau kalau Pandai Sikek ini adalah daerah yang tersohor dengan kerajinan tradisional tenun-menenun dan juga ukiran tradisional Minang. Tapi meskipun begitu bisa dikatakan kami belum pernah melihat tempat ini secara langsung, padahal jarak tempat kami dengan tempat ini cukup dekat. Mungkin karna kesadarannya baru timbul beberapa waktu belakangan ini.

Siip, semua perlengkapan siap dan kita berangkat, cuaca juga sangat mendukung, langit biru cerah tapi udaranya masih tetap dingin khas udara pegunungan. Hmm.. kita dengan tidak ragu menghirup dalam-dalam udara yang bener-bener segar belum terkontaminasi polusi seperti di kota-kota. Baru memasuki daerah lokasi tujuan kita langsung disambut dengan pemandangan pembuka, tanpa pikir panjang kitapun langsung memanfaatkan moment ini poto-poto tentunya. Di pinggir jalan ada plang yang bertuliskan “Pusako Minang” dalam hati saya menyetujui tulisan tersebut.

Lanjut beberapa meter dari situ kita mulai memasuki perkampungan yang bersih, rapi dan terlihat kesibukan masyarakatnya yang berlalu lalang. Kita melihat ada beberapa rumah bagonjong dan juga rumah-rumah biasa atau juga malah ada yang seperti toko di dalamnya banyak koleksi tenun mulai dari yang tradisional sampai yang udah dimodifikasi dan dengan inovasi, dan kreatifitas menciptakan suatu karya perpaduan antara tradisional tapi tetap modern. Juga mulai dari harga yang ekonomis sampe yang muahal. Saya penasaran memangnya apa yang membuat kain selendang dengan motif kembang yang cantik ini harganya begitu mahal..?? ternyata proses pembuatannya yang hand made, WOW.. trus satu selendang itu biasanya dapat diselesaikan dalam satu bulan. Waah pantes.. Disebelah beberapa rumah tenun saya sekilas melihat seperti kedai kopi, ternyata bukan dan itu adalah seperti bengkel ukiran tradisonal Minang yang sedang dikerjakan oleh beberapa orang.

Ada satu tempat yang begitu spesial dimata saya, namanya Rumah Tenun Pusako, dari jalan rumah ini terlihat seperti rumah adat bagonjong khas minang, di depannya ada kolam yang ditumbuhi bunga teratai. Rasanya sudah jarang sekali akhir-akhir ini saya melihat kolam yang ditumbuhi teratai. Indah sekali melihatnya, setelah kita ambil poto, akhirnya kita putuskan untuk mengunjungi rumah ini, meskipun kita nggak mau beli apa-apa kita hanya mau minta poto dan melihat-lihat. Untunglah pemiliknya sangat baik dan waktu itu sedang ada pembeli dan rantau sepertinya sehingga kamipun gak jadi perhatian utama jadi bebas deh ambil poto.

Puas mengagumi rumah tenun pusako kamipun melanjutkan berharap menemukan yang lebih hebat lagi, tapi ternyata sudah habis. Melihat semua itu saya terfikir potensi sehebat ini kok gak begitu terekspose yah..?? saya jadi teringat kalau di malaysia ini pasti sudah jadi icon tersendiri nih.. kayak Istana Meranti di Negri Sembilan yang struktur bangunannya sama dengan Rumah Bagonjong khas Minang yang pembangunannya tanpa menggunakan paku. Sementara kita punya potensi sebesar ini kok hanya begini aja..??

Terus berjalan menyusuri jalan diantara dua gunung ini akhirnya kita sampai di penghujung kampung, sepertinya sudah memasuki pinggang gunung Singgalang. Jalan yang mendaki dan menurun curam. Saat melihat ke belakang ternyata ada pemandangan yang spektakuler, kita berenti sejenak untuk menikmati tapi masih penasaran kayaknya kalau semakin tinggi pasti lebih seru. Akhirnya kami lanjut lagi mendaki sampai batas aspal dan rasanya udah mencapai batas awan, waaah seruu.. udara dingin padahal tengah hari, pemandangan dahsyat. Dari situ terlihat danau Singkarak dan gunung Merapi berdiri gagah dengan puncaknya ditutupi awan.

Rasanya nyaman sekali disini, hijau, langit cerah biru dengan awan putih, udara bersih sejuk.. pastinya tak lupa kita poto-poto. Dan ternyata disebelah kanan kami ada tempat pengilangan tebu menjadi gula secara tradisional yang menggunakan tenaga kerbau. Tapi sayang waktu itu mereka sedang tidak bekerja padahal pengen sekali melihatnya.

Masuk waktu Zuhur akhirnya kita turun lagi dan sekarang menuju ke Padang Panjang dengan niat wisata kuliner. Sebelumnya kita shalat Zuhur dulu di mesjid yang indah yang ada di pinggir jalan Bukittinggi-Padang ini. Saya suka shalat disini, rasanya nyaman aja dan juga banyak ikhwan dan akhwat.. hehehe..

Niatnya wisata kuliner tapi kita malah kebingungan di Padang Panjang mau kemana, akhir Cuma makan siang abis itu balik ke Bukittinggi. Kembali muter-muter gak nentu, akhirnya kita nyari makanan khas lagi, saya pesan es tebak aja sih tapi Haris teman saya pesan “Ampiang Dadiah”. Sebenarnya saya juga kepengan nyobain tapi rasa geli mengalahkan rasa penasaran saya untuk nyobain makanan ini. Dadiah itu adalah makanan tradisional yang bisa dibilang khas Bukittinggi juga, terbuat dari susu kerbau yang difermentasikan dalam bambu dan biasa di makan dengan ampiang (emping).

Bingung mau kemana lagi akhirnya kita pulang. Meskipun capek seharian jalan tapi seruu.. saya masih penasaran dengan Maninjau atau Painan, yang berminat bergabung berpetualang dengan saya hayuuk..

Senin, 12 Juli 2010

Gantiang Baralek Gadang

Beberapa bulan terakhir ini weekend jarang saya habiskan untuk pergi jalan-jalan ataupun sekedar leyeh-leyeh di rumah. Persiapan acara adat Batagak Datuak telah menyita semua rencana weekend yang telah saya ancang-ancang sebelumnya. Bukan secara terpaksa tapi memang kewajiban moral karena saya adalah anak kemenakan dari suku ini (Koto) dan juga saya ingin sekali mempelajari adat istiadat Minang Kabau khususnya kampung saya Koto Gadang yang ternyata sangat hebat.
Acara Batagak Datuak adalah sebuah prosesi adat tertinggi di Minang Kabau, yaitu pengangkatan seorang leader atau ketua dari sebuah kaum atau suku, mirip dengan pemilihan seorang President tapi lebih kekeluargaan. Alasan pengangkatan Datuak inipun ada beberapa macam, untuk yang suku saya ini kalau gak salah dinamakan “mati batungkek budi” dimana Datuak Pangulu baru diangkat karena Pangulu yang lama meninggal dunia dan penggantinya harus dicarikan hari itu juga sebelum mayatnya dikuburkan.

Malewa Gala

Prosesi adat ini disebut “mangambang lapiak” dimana di depan rumah Pangulu yang lama di gelar tikar dan ditengahnya diletakan baju kebesaran Pangulu lengkap dan semua keluarga berkumpul untuk men
entukan siapa kandidat calon pengganti Pangulu yang kira-kira paling cocok. Kriteria untuk seorang Pangulu ini mirip dengan seorang manager plus memiliki sifat yang mengacu kepada ciri-ciri sifat Nabi Muhammad SAW yaitu: siddiq, amanah, fathanah, tabligh, dll (tapi pada acara adat yang ini saya tidak bisa hadir, gak dapat cuti).

Bakampuang Ketek
Nah selesai terpilih seorang calon Pangulu atas kesepakatan semua Paruik (keluarga) acara berikutnya adalah “bakampuang ketek”
yaitu musyawarah atau duduk bersama semua anggota keluarga suku. Disebut bakampuang ketek karena ini musyawarah intern suku yang bersangkutan (Koto, suku saya) aja. Dalam sebuah kampuang atau nagari terdiri dari beberaka suku, jadi suku yang lain belum diikutkan. Dan acara ini dipimpin oleh Datuak Tumangguang, dia adalah yang dituakan di pasukuan Koto. Inti dari acara ini adalah kembali menyepakati apakah memang sudah disetujui oleh semua Paruik calon Pangulu yang baru ini sebagai calon yang terbaik..??. Ada inovasi disini kalau dulu persetujuan dari setiap paruik ini hanya secara lisan sekarang dibuat secara tertulis dan ditanda-tangani.da yang suaminya meninggal, semua dibedakan. Untungnya bagi kita yang masih single ini bisa sekalian manyilau (survey) deh, kali aja ketemu jodoh hehehe.. ehh tapi gak saat acara adat yang ini karna disini kita semua masih satu suku = gak boleh.
Basudi Siasek
Jika semua Paruik
telah setuju acara selanjutnya tapi masih dalam bakampuang ketek ini juga yaitu mempersiapkan untuk prosesi berikutnya, yaitu “basudi siasek” atau dalam bahasa sekarangnya disebut juga fit and proper test, calon Pangulu yang sudah disepakati tadi seperti di sidangkan dulu oleh Datuak Nan 24 (Datuak yang ada di Koto Gadang), dalam acara ini juga saya gak bisa hadir karna masalah cuti)

Baiyo-iyo

Selanjutnya acara “baiyo-iyo” yaitu kemb
ali duduk bersama tapi saat ini seluruh kampung dilibatkan, untuk membicarakan dan membentuk panitia yang akan bekerja pada acara puncak nantinya. Batagak Datuak memang pengangkatan seorang leader dari sebuah suku, tapi acaranya disebut juga Alek Nagari karna itu semua elemen dalam kampung tersebut dilibatkan supaya pada acara hari H semua berjalan dengan baik, lancar dan semeriah mungkin.

Mulai dari acara baiyo-iyo ini semuanya sudah terlihat sibuk sesuai dengan bagian tugasnya masing-masing, kampuangpun sudah mulai dibersihkan dan dirapikan, warga rantau sudah mulai banyak yang pulang untuk membantu apa yang bisa dibantu. Disini sudah
mulai terasa kental jiwa gotong-royang dan kekeluargaannya, benar-benar sangat indah dan menyenangkan. Memang dalam bekerjasama apalagi di kampung pasti ada kendala dan masalah yang muncul, dan penyelesaiannyapun berbeda dengan yang biasa saya temui di kantor ataupun saat kuliah dulu. Tapi itu semua merupakan pengalaman baru dan unik. Seperti saya yang pernah diprotes oleh uda-uda dan mamak-mamak (abang dan om) karna kosa kata yang saya pakai terlalu intelek menurut mereka seperti deadline, planning, urgent, due date, PIC, leader, dll hehehe..

Rasanya saya gak mau melewatkan setiap kegiatan yang ada, tapi itu gak mungkin karna saya punya tanggung jawab lain di kantor. Pikira
n saya bercabang berusaha sesering mungkin terhubung ke kampung supaya tetap update dan barangkali aja ada yang bisa dibantu.

Bakampuang Gadang
3 Juli 2010 dihari H, Bakam
puang Gadang dan Batagak Datuak saya minta cuti supaya bisa mengikuti acara puncak dari ceremonial Batagak Datuak ini secara penuh. Acara nya tiga hari mulai hari Sabtu sampai Senin, 3-5 Juli 2010. Sabtu rencananya mau minta ijin tapi gak jadi karna ada kerjaan yang urgent yang harus diselesaikan. Siangnya langsung cabut pulang, untunglah masih belum terlambat. Sampai dirumah langsung ganti kostum, dan siap-siap bertugas. Saya ditugaskan untuk “manatiang” (menyajikan hidangan makan) adat untuk para Datak Nan 24 juga para tamu.

Sebelum bertugas briefing dulu mengenai teknisnya seperti apa, karna ini pengalaman pertama saya jadi saya dihantui perasaan takut salah. Kita berdelapan orang disebut “anak bujang nan capek kaki ringan tangan” dibagi menjadi dua kelompok, separo untuk Datuak Nan 24, separo lagi untuk para tamu, saya kebagian yang untuk Datuak Nan 24. Rasanya seperti membawa hidangan untuk para raja aja, stres takut salah, ntar kejedut atau jatuh berantakan mampus deh. Jalannya harus menunduk, saat meletakan hidangan lutut harus menyentuh lantai kedua-duanya. Dan juga ada aturan urutan hidangan apa yang di hidangkan lebih dulu tidak boleh salah kebalik-balik. Mulai dari aia basuah (kobokan), nasi jamba (seperti piring besar, satu jamba terdiri dari 4-5 orang yang makan bersama-sama), aia minum tiap jamba harus 5 gelas meskipun satu jamba itu hanya empat orang, samba merah atau asam padeh, randang, bihia atau gajeboh, terakhir baru daun pisang untuk lap tangan bukan pakai tissue atau serbet.

Saya sampai keringetan manatiang, untung gak netes ke dalam hidangan. Tugas selanjutnya membereskannya tapi untuk yang ini gak ada aturannya hanya tetap menunduk seperti jalan jongkok. Capek euy. Kelar bertugas giliran kita yang makan bajamba sesama tim manatiang, seru kebersamaan yang timbul dari makan bajamba ini terasa banget.

Di Min
ang setiap acara adat selalu diawali dengan pasambahan, seperti kata pengantar mirip dengan berbalas pantun. Setelah selesai pasambahan sesudah makan tadi acara selanjutnya yaitu pengokohan calon Datuak yang baru dengan pengambilan sumpah, dilanjutkan dengan peresmian secara simbolis dengan membuka ikatan marawa (umbul-umbul khas Minang yang mirip bendera Jerman) yang bertuliskan nama Datuak Radjo Ampang Limo untuk ikut berkibar bersama marawa Datuak Nan 24 lainnya.

Acara adat hari itu selesai, malamnya dimeriahkan oleh acara hiburan yaitu baga
maik, musik yang berasal dari melayu tapi sudah diadopsi dan dikolaborasi oleh budaya Minang sehingga memiliki cirikhas tersendiri. Semuanya berbahagia ikut hanyut oleh alunan musik, semua orang bergoyang dan yang malu-malu ditarik ke lantai dansa dengan menggunakan selendang. Sayang saya sudah sangat lelah dan mengantuk juga untuk mempersiapkan tenaga untuk acara esok hari, jadi tidak bisa menikmati acara bagamaik ini sampai tuntas. Tapi seru, semua keluarga besar terasa sangat akrab.

Maarak Kabau

Acara inti hari berikutnya adalah “maarak kabau” diiringi oleh tim Tansa dan Pencak Silat serta seluruh masyarakat kampung. Prosesi adat yang ini menjadi paling seru karna atraksi dari tim Tansa dan juga antusiasme orang kampung yang begitu tinggi sehingga arak-arakan menjadi sangat panjang. Warga Koto Gadang lainnya pada takjub, baru kali ini yang seheboh ini.

Si kerbau nan bohai ini (kerbau untuk acara adat ini harus pilihan, yang memiliki garis, bentuk dan ukuran tanduk yang ideal, badan dan kepala yang
bagus) dikasih baju warna hitam dan di arak (digiring) ke sekeliling kampung. secara mendadak si kerbau jadi selebritis semua orang pengen berfoto dengannya. tapi kasiah juga si kerbau sepertinya keliatan stres.


Basalauang
Acara maarak kabau selesai maghrib, malamnya disambung oleh
acara saluang (musik tradisional khas minang yang menggunakan suling bambu dan diiringi oleh beberapa penyanyi yang kalau di dengar seperti orang sedang meratapi diri) banyak generasi muda kurang menyukai musik tradisonal ini termasuk saya awalnya. Setelah memperhatikan ternyata seru juga dimana kita bisa request lagu biasanya untuk menyindir teman lain, lalu si penyanyi yang mirip sinden kalau di jawa dengan karangan sendiri menyanyikan lagu tersebut dengan tema yang sudah di request, dan itulah yang menjadikan saluang ini menjadi seru.

Mangulansiang
Saluang juga sebagai pengantar bagi tim mangulansiang (undangan tradisional yaitu
dengan cara mencambuk jenjang halaman setiap rumah yang ada di kampung setelah itu disebutkan kata-kata undangannya kalau tidak salah berbunyi “wo amay.. wo amay.. wo amay.. kulansiang lapeh bajak gadang ketek tuo mudo datang bisuak ka tapi, dak tau kato mangatokan”, khusus untuk rumah para Datuak ada kata-kata khusus) untuk pergi bertugas. Saya juga terlibat dalam prosesi ini, tengah malam pergi menyusuri setiap rumah dan mengucapkan kata-kata yang susah sekali saya hafalkan. Tim saya kebetulan tim dengan anggota terbanyak karena daerahnya juga yang terluas dan seram. Tapi karna rame diasikin aja, jadi seru juga kok hehehe..

Mandabiah Kabau
Setelah semua tim
mangulansiang pulang, tim lain langsung bersiap-siap untuk acara selanjutnya yaitu prosesi penyembelihan kerbau. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari acara ini, hanya karna ini kerbau untuk acara adat aja jadi semua orang antusias untuk menyaksikan, ada juga karna belum pernah melihat penyembelihan kerbau dan berharap ada sesuatu yang spesial pada prosesi ini. Saya sebenarnya gak tega melihat prosesi ini anehnya saya berada di barisan depan, stand by dengan camera untuk merekam setiap moment. Tapi pada saat penyemblihan dengan camera tetap mengarah ke kerbau saya memalingkan muka tak kuasa untuk menyaksikannya langsung, kasihan kebaunya. Suhu udara subuh itu duingin poll. Selesai penyemblihan saya langsung pulang berniat istirahat kali aja dapat tidur 2-3 jam. Saat memejamkan mata rasanya telinga dan mata saya masih mendengar musik tansa dan semua seru-seruan seharian tadi.

Baralek Gadang
Senin 5 Juli 2010 pukul 8.00 saya dibangunkan HaPe yang berdering sangat kenceng karna di tarok di bawah bantal. Saya disuruh bersiap-siap untuk menjemput Anak Daro (Istri Datuak yang baru) dengan iring-iringan talempong, bersama dua anak bujang lainnya memegang carano yang berisi siriah. Baru pertama kali juga nih, jalannya pelan-pelan, berasa jadi manten deh.


Selesai menjemput Istri Datuak, langsung ke dapur kembali briefing untuk manatiang karna ada sedikit perbedaan aturan pada hidangan hari ini. Tiba-tiba ada yang menarik tangan saya untuk ikut menjemput Datuak Nan 24 ke Balai Adat Koto Gadang, formasinya masih bertiga, sama kayak menjemput Istri Datuak tadi. Sebenarnya harus ada urang sumando (laki-laki yang menikah dengan wanita di suku Koto saya ini) tapi karna kepepet akhirnya saya aja diminta untuk menggantikan asal jangan ketahuan aja hehe. Kembali stres saya jadi cerewet nanya-nanya karna takut salah.

Ternyata prosesinya gak separah yang saya bayangkan, cuma sebentar aja trus lanjut deh kembali ke rumah Datuak tempat diadakannya acara. Ada yang menarik diperjalanan. Saya sempat terlibat ngobrol dengan bapak-bapak & ibu-ibu yang semobil, sampai akhirnya ada pertanyaan “udah punya pacar..??” dan mereka bilang “kalau bisa carilah jodoh orang Bawah (Koto Gadang), "sayangnya ibu gak punya anak gadis” saya senyam senyum mesem aja, dalam hati padahal ngakak.. mau bangeeett.. hahaha..

Setelah Datuak Nan 24 disambut oleh para petinggi-petinggi, saya langsung kabur lagi ke dapur untuk tugas manatiang. Untunglah hari sebelumnya dapat pengalaman banyak jadi sekarang udah gak kaku lagi. Semuanya berjalan lancar, tapi ada sedikit yang mengecewakan hati saya, gulai cancang (gulai daging kerbau pakai campuran rebung muda) yang dihidangkan sudah dingin dan minyaknya membeku, itu juga karna pasambahannya terlalu lama plus kita terlalu cepat menyalin ke piring. Selesai acara ini kami gak ada makan bajamba seperti hari sebelumya, saya sendiri agak geli makan daging kerbau ini hihi

Saat keluar dari dapur selesai manatiang saya heran kenapa orang-orang jadi rame banget. Kirain karna banyak warga yang antusias untuk melihat, cuek aja sayapun nyari foto-foto buat dokumentasi dan sedikit-sedikit mendengarkan kata-kata pasambahan berharap bisa belajar. Saya jadi banyak belajar tentang adat istiadat sejak mengikuti rangkaian acara Batagak Datuak ini.

Batabua Urai
Saat para Datuak Nan 24 keluar dari rumah gadang (rumah orang tua Datuak),
orang-orang semakin rame dan mulai rusuh. Ternyata ada bungkusan-bungkusan kecil yang berisi uang logam yang dilemparkan oleh panitia dan para Datuak juga, acara ini namanya “batabua urai” rame banget dan rusuh, dari anak kecil sampe orang gede ikut semua. Sampai sekarang saya masih belum mengetahui apa makna di balik acara batabua urai ini, karna orang ingin mendapatkan bungkusan tadi bukan karna nominalnya tapi hanya untuk disimpan sebagai kenang-kenangan. Entahlah pokoknya saya menikmati aja.

Selesai itu saatnya berfoto bersama dengan Datuak yang baru, untuk yang ini saya pastinya bersemangat lagi hehehe..
Cuapek poll selama acara ini tapi tak seberapa dengan pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan. Nagari saya ternyata sangat huebat. Saya bangga..

NB: mohon maaf jika ada kesalahan nama, atau istilah dalam tulisan ini..

Selasa, 15 Juni 2010

Pulang Kampuang

Mendengar kata-kata ini mungkin kita jadi membayangkan bahwa seseorang pergi merantau jauh dan sudah lama nggak pulang, tapi bagi saya meskipun saya merantau kalau orang minang bilang rantau baliak dapua artinya dekat banget, tapi tetap aja saat weekend jika tidak ada acara yang lebih berati dari pulang kampuang yaa saya selalu melakukan ritual pulang kampuang.

Biasanya pada jumat sore atau sehabis shalat jumat pikiran udah gak bisa konsentrasi penuh lagi di kantor, otak melanglang buana kemana-mana mikirin kegiatan apaan yang seru buat weekend, dan Sabtunya (karna saya hari sabtu masuk kerja setengah hari) kalau tidak banyak kerjaan yang berati saya udah kayak berada diatas bara api, kasak-kusuk nungguin jam pulang, dan segera hengkang dari kantor untuk cabut pergi weekend.

Jam sudah menunjukan pukul 1.30 WIB, lewat 1 menit saya mulai merangsek menuju tempat pengambilan absen ceklok yang ada di lantai 2 kantor, tepatnya di meja si HRD, sambil senyam-senyum “hehehe.. pak pulang dulu..” setelah sukses ceklok absen tenggo alias “teng” langsung “go”, segera ambil kunci jaket dan menuju ke kostan untuk kemas-kemas.

Diantara barang-barang yang nggak boleh ketinggalan adalah: Jaket untuk bermotor, helm standard yang ada logo SNI, halah.., sarung tangan, earphone (tapi tidak untuk digunakan saat berkendara karna sangat bahaya), charger HaPe, laptop + charger, semuanya dimasukan ke dalam ransel, dan ditutupi dengan pakaian kotor yang mau dicuci di rumah, hehehe (maklum tukang cuci saya udah resign dengan alasan mau mencoba berbisnis), tak lupa juga kecelemete alias kacamata yang satu ini nggak boleh ketinggalan.

Kebetulan saat ritual pulang kampung saya kali ini lagi ada event tour de singkarak dan etapenya kali ini melewati depan kostan jadi jalannya untuk sementara di tutup total, terpaksa nungguin para pembalapnya lewat dulu, tapi gakpapa karna ini event international pasti seru dan keren, diasikin ajah.

Nah setelah semuanya lengkap, dengan membacakan Bismillah maka berangkatlah saya menuju ke arah barat. Sekitar 500 meter baru jalan ketemu SPBU dan harus mampir dulu, gak lucu kan dijalan lagi menikmati perjalanan tiba-tiba bensin habis dan dorong-dorong motor. Siip bensin full, ready to go to kampoeng tacinto, dengan jarak tempuh lebih kurang 80 km dengan lama perjalanan sekitar 2 jam, kalau ngebut bisa 1,5 jam, kalau nekad bisa nyemplung masuk danau singkarak J (jangan sampe deh..)

Selama perjalanan dari Solok ke Bukittinggi (ketahuan deh rantaunya cuma di solok, beneran di baliak dapur kan? Hehehe..) akan disuguhi pemandangan yang keren dijamin bisa memanjakan mata. Sekitar 15 km perjalanan kita akan ketemu dengan danau yang terbesar di Sumatera Barat dan kedua di Sumatra dan Indonesia, yaitu danau Singkarak, pemandangan inilah yang membuat saya malas untuk pulang sendiri dengan motor karna akan membuat mata mengantuk dan menghayal-hayal selama perjalanan. Tapi berhubung kali ini pulang sendiri jadi diasikin aja.

Penyakitnya udah datang, mata mulai menghayal kemana-mana, karna takut bablas yang nantinya malah bikin fatal akhirnya saya putuskan berhenti dan benar-benar menikmati indahnya pemandangan danau Singkarak yang diujungnya keliatan gunung Merapi dan Singgalang yang artinya kesitulah arah tujuan destinasi ritual pulang kampung saya ini.

Di Singkarak ini saya punya beberapa tempat favorit untuk berhenti sejenak menikmti pemandangan atau cuma sekedar numpang pipis. Tempat pertama yaitu; tempat beli ikan bilih (ikan yang hanya ada di danau Singkarak ini), dan spot terbaik menurut saya untuk berehat dan mengambil photo.


Okeh setelah berehat sebentar menikmati tiupan angin danau yang bikin ngantuk, cuci muka, dan tak lupa poto-poto kali aja dapat angel dan cuaca yang bagus akhirnya perjalanan di lanjutkan dan sambil lihat-lihat pemandangan yang dahsyat itu juga. Sayang cuaca kali ini agak mendung jadi photonya juga agak kurang terlihat cerah.Beberapa kilometer selepas danau Singkarak akhirnya saya memasuki sebuak kota yang sudah mulai terasa perbedaan suhu dengan Solok, namanya Kota Padang Panjang, kota ini akhir-akhir ini sangat booming dengan taman rekreasinya yang bernama Mifan (Minang kabau Fantasi), memang formatnya mirip dengan Dufan seperti juga namanya, tapi di Mifan ini wahana water boom dan wahana lainnya dalam satu kawasan, nggak seperti di Dufan yang terpisah. Tapi tujuan saya kali ini bukan kesitu.

Nah ritual selanjutnya yang saya lakukan di kota ini adalah kunjungan ke sini

Yak warung bakso yang satu ini sangat sering saya kunjungi kalau saya pulang kampung, perjalanan yang telah dilalui tambah dengan cuaca yang suejuk sudah dengan sukses membuat perut laper dan makan bakso adalah pilihan yang tepat kayaknya, apalagi warung bakso yang satu ini sudah sangat terkenal dengan khas cita rasanya sejak saya masih kuliah dulu (bukan promosi lho yah, bukan siapa-siapa gue juga).

Nah setelah perut kenyang dan badan juga udah terasa agak hangat perjalananpun dilanjutkan dengan track yang agak mendaki. Perjalanan yang inipun juga selalu saya nikmati, saya selalu menaikan kaca helm untuk menikmati udara segar (kecuali di depan ada mobil truk yg asapnya itam L), dan disini juga ada pemandangan lagi di sebelah kanan ada Gunung merapi sementara di sebelah kiri ada gunung Singgalang. Nah di tengah perjalanan ini banyak sekali pondok-pondok bika (makanan khas daerah koto baru padang panjang, gak tau namanya dalam bahasa Indonesia), tentunya yang paling terkenal Bika Simariana yang sudah ada lagunya yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris minang yaitu Uni Eli Kasim (sok akrab deh panggil uni).

Entah kenapa saya kalau sudah melewati dua gunung tadi dalam benak saya itu artinya sudah sampai di kampung, dan makin senang kalau sudah lihat perempatan Padang Luar (lebih dikenal dengan sebutan Simpang Padang Luar). Sampai di Padang Luar, biasanya saya celingak-celinguk dulu kali aja ada sodara se-kampung yang lagi nunggu angkot yang bisa saya boncengi. Dan 3 kilometer setelah itu sampailah saya di my parent’s house (not my house yah..)

Sesampai di rumah pastinya yang dicari pertama kali adalah masakan si Mama, meskipun tadi sudah makan bakso tapi makan di rumah menjadi ritual yang wajib juga. Nggak ada yang bisa ngalahin masakan si Mama.

Baiklah sekarang waktunya leyeh-leyeh dan menikmati udara dan pemandangan di kampung hmm..

Ada yang mau ikut saya melakukan ritual pulang kampung..?? yuuk... sekalian nyari teman biar gak ngantuk.. hehehe..