Jumat, 23 Desember 2011

Pare si Kampung Ingris di Kediri

Go to Pare (a not-so-long-stay in Pare part 1) , small town in East Java

After I making a big deal in my life (read: resign from my previous job) and I went back to my home town to celebrate feast day of Idul Fitri. Finished from euphoria of Idul fitri, every body had back to their activities and I leaved alone and tried to prepare about my plan in the  future. I didn’t know where I get this idea, I thought and considered about Pare City in East Java,  where this place is famous with “kampong Inggris”. So many students and also common people study or improve their English there. I wonder to get there.
Actually I have some purposes to visit Pare, firstly is  to improve my English while I seek for new job, and the second is for adventure, I had a dream about staying in a place where I never visited before and I don’t know anyone there, or I love to say that really in the middle of nowhere.
Okay I  just need 2 weeks to make this decision, and I tell to my parent that I’ll go. My plan, I’ll go by bus from my home town Bukittinggi to Jakarta, and continue by train to Jombang (last rail station) and then continue by angkot (public transport) to Pare. Thanks God I have Parent who always support me.

Now, the day has come, it’s time to go. My Mom gave me 2 packs of rice covered with banana leaves (I don’t know how to say it in English exactly :D) By Lorena bus will be reaching Jakarta in 1,5 days. In the bus, I had 2 friends, they were old men, and I made some conversations with them, one man wanna go to Ngawi his home town and the another one wanna go to Rawamangun, Jakarta, and we talked about many things, and I was so surprised when the first man asked me to be his son in law. HAAAH..?? My brain one’s beat to look for some reason to deny it. I just smile, and said “better if we (me and his daughter) meet first, what if your daughter dislikes me?” thanks God he agreed.

When we crossed  the Sunda Strait, another man brought me to a place in the ship and he started to talk seriously, and then the same case happened again, he also asked me to be his son in law, but this one really serious. He noted my phone number, and he asked me to visit his house and meet with his daughter when we arrive in Jakarta. OMG, what’s wrong with me?  I just said “yeah if I have leisure time I’ll visit him” fyuuuuh…

I stayed in Jakarta for a week before I continued my trip to Pare I attended some job fair in Jakarta, who knows Allah gives me the way there. After applied some position in some companies but there’s no respond then I decided to continued my trip to Pare. I Bought train’s ticket for executive class Rp 255.000 from Senen Rail station to Jombang. The train was very comfort, I could sleep well along way, just got up twice for bought Pop Mie in Semarang Rail Station and for took a pee. 

Pasar Senen Rail Station
Friend on board

Arrived in Jombang at 5.00 PM, I was quite worry about how to get (to) pare from here? On the way to exit gate I found Mushalla and I take Shubuh pray first and after that I heard a man said “paree.. paree..” and I asked him about bus to Pare, thanks God it’s not as difficult as I thought before. (and note for me, firstly I felt scare about bus broker (in Bahasa said calo) but I realized that now I’m not in Minang any more, because I often feel uncomfortable with bus broker in Minang, some time they looks force us, ggrrrr.
From Jombang to Pare by bus (public transport) around 1 hour, at the time the sun rise was so beautiful, corn field looks gold, so beautiful. I really enjoyed it. Arrived in Pare, Tulung Rejo exactly, the weather was so nice, I came too early morning, so there is no course has opened. 

the sun rise
Tulung Rejo Archway
Pare view in the morning


Note: thanks to Rika daniel for editing :D

Jumat, 12 Agustus 2011

Taraweh nan Syahdu

Yak kembali lagi hari ini Jumat, seperti biasanya penyakit saya sering kambuh dihari ini yaitu memikirkan kemana hendak akan melanglangbuana. Dari pagi berangkat kerja saya sudah mempersiapkan bekal untuk persiapan barangkali nanti ada ide pergi kemana dan bahkan harus nginap, jadi siap tempur.

Tapi jumat kali ini saya udah rencakan dari awal Ramadhan untuk taraweh di Masjid Sunda Kelapa, salah satu mesjid tua di Jakarta. Saya mengenal mesjid ini awalnya karna diinformasikan bahwa dipekarangan mesjid yang terletak di Menteng, setiap hari minggu banyak pedagang yang menjual makanan khas Minang, tapi saya masih belum sempat berkunjung kesana karna saya masih bingung dengan jalannya. Nah kebetulan ada teman yang memberitahukan kalau selama Ramadhan di mesjid Sunda Kelapa imamnya didatangkan langsung dari mesjid Madinah, woow saya langsung semangat, belum ada kesempatan untuk mengunjungi mesjidnya, diimami oleh imam mesjidnyapun udah syukur.

Modal map HP plus nekad, saya tancap pake motor kesayangan kesana, seperti yang udah diprediksi, saya bakalan nyasar, untungnya saya udah prepare waktu berangkat tenggo (teng langsung go) dari kantor, jadi walaupun 2 kali kesasar saya pas tepat waktu buka puasa sampai di mesjid Sunda Kelapa.

Memasuki pintu mesjid tiba-tiba ada yang menarik tangan saya dan mengajak untuk mengambil ta'jil atau makanan untuk buka puasa, Alhamdulillah pertolongan Allah memang selalu tepat waktu, kebetulan saya lupa bawa bekal untuk buka puasa. Setelah shalat maghrib, saya lanjutkan makan biar gak kelaparan pas tarawih nanti, infonya juga taun ini mesjid ini menyelenggarakan shalat tarawih 20 rakaat ditambah 3 rakaat shalat witir, jadi saya memperkirakan bakal butuh tenaga ekstra supa tidak ngantuk dan capek.

Setelah selesai shalat sunnah ba'diah maghrib ternyata bertepatan dengan jadual bulanan mesjid bahwa setiap jumat minggu pertama tiap bulan mereka menyelenggarakan shalat sunnah tasbih, yaudah saya segera berkemas dan ikutan. Jujur ini yang pertama bagi saya :D.

Selesai shalat sunnah Tasbih pas masuk waktu shalat Isya, saat ini shalat masih diimami oleh imam mesjid Sunda Kelapa, setelah itu ada ceramah ramadhan yang dikemas secara singkat padat dan penuh makna. Baru setelah itu shalat sunnah tarawih. Majulah sesosok ras Arab yang tinggi besar brewokan dan memakai koostum khas bangsa timur tengah dengan gamis lengkap. Saya langsung menyimpulkan kalau itulah si imam yang dimaksud.

Nggak kerasa ternyata udah salam ke empat, rakaat ke delapan, sebagian jamaah mengundurkan diri dan sebagian lagi masih tetap melanjutkan sampai nanti salam ke sepuluh atau rakaat dua puluh. Awalnya saya juga berniat sampai rakaat 8 aja, tapi mendengar bacaan ayat Al Quran si imam yang begitu bagus saya jadi gak merasa ngantuk dan capek, rasanya si imam benar-benar dari hati membacakan tiap ayat demi ayat sehingga kita juga ikut merasakan. Sungguh syahdu, dan saya malah pengen nambah, sampai sahurpun mungkin akan tetap kuat. (gaya2an :p)

Selesai shalat taraweh yang juga telah menyelesaikan 1 juz saya terperangah nggak beranjak dari tempat duduk saya, menikmati interior mesjid, membayangkan bagaimana perjuangan mesjid ini bertahan sejak jaman penjajahan dulu hingga makmur seperti sekarang. Lalu saya ikut barisan jamaah yang saling bersalaman sambil mengumandangkan shalawat nabi, dan ternyata si Imam juga ada dibarisan. Selesai salam2an saya seperti biasa dengan tidak tau malunya minta berfoto dengannya, lumayan buat kenang2an, ntar kalau saya dikasih kesempatan bisa pergi umroh mana tau bisa ketemu lagi di medinah. hehe aamiin.
bersama Syech Muhammad Ali Jabir


Interior Mesjid Sunda Kelapa
Mihrab Mesjid Sunda Kelapa

 Selesai foto2 setelah itu datang 3 orang pemuda kira beberapa tahun di atas saya umurnya dan mereka memintakan doa karna dia baru saja jadi muallaf, spontan kita memberikan selamat dan membuat lingkaran, doa dipimpin oleh si Imam mesjid Nabawi, ternyata lingkaran kami menarik perhatian jemaah lain dan akhirnya banyak yang bergabung dan ikut mendoakan si mualaf, benar2 haru suasananya, saya sampai merinding, berkah ramadhan. Syukur Alhamdulillah tiada terkira dengan semua kejadian hari itu, benar2 penuh makna, banyak pelajaran yang saya ambil. Ya Allah jadikan saya hambamu yang selalu tawakal dan istiqamah ya Allah..
mualaf (yang pakai kaca mata)

Rabu, 06 Juli 2011

Mesjid Kubah Emas Pertama

Sebenarnya niat untuk menceritakan tentang perjalanan saya menuju mesjid kubah emas ini udah lama, tapi dikarenakan saya lagi marahan ceritanya sama internet jadi gak mau on-line dulu melalui laptop atau HaPe pribadi, kalo minjam atau pake fasilitas umum boleh, hehe aneh.

Niatnya hari itu cuma nyari kosan, rencananya weekend itu saya mau ditemani Haris nyari kosan. Hari pertama hunting bersama haris gak dapat meskipun udah muter2 kesana kemari, pada saat mau pulang kita ketemu sama teman Haris yang akhirnya kenal dengan saya melalui internet (blog, twitter & facebook), namanya Fahmi. Sering chatting trus ketemu akhirnya saya udah kayak temenan dekat juga. Berhubung besoknya Haris gak bisa nemanin saya nyari kosan trus si Fahmi nawarin diri untuk mau menemani, ya udah saya dengan tak tau malunya memanfaatkan keadaan (dari pada nyasar gak tau jalan trus bego sendiri).

Kita mulai hunting jam 10 ngaret sejam dari rencana awal, Siangnya setelah nemu beberapa referensi dan saya udah kecantol satu pilihan akhirnya kiti memilih udahan dulu nyari kosannya. Setelah istirahat, shalat dan makan tiba2 si Fahmi nyeletuk ngajakin ke Depok, tepatnya Mesjid Kubah Emas. Saya gak perlu mikir lama langsung hayuk aja (kalau urusan jalan perasaan hayuuk terus deh). Akhirnya diputuskan untuk langsung menuju kesana, Fahmi sebenarnya juga gak begitu yakin dengan transportasi kesana, tapi yaudahlah kita punya map dan juga bisa nanya2 di jalan, masih negara sendiri ini juga kok.

Perjalanan dimulai dari terminal Blok M, menggunakan angkot kopaja menuju Pasar Minggu, dari sini kita bingung mau naik kereta api atau angkot lagi, setelah nanya sama petugas penjaga palang pintu perlintasan kereta api (niat banget yah nyari tempat bertanya) akhirnya disaranin naik angkot aja, kita yang orangnya lugu (gak usah komen) nurut aja. Ternyata perjalanannya cukup panjang dan lama, tapi karna berhubung saya baru pertama kali kesini jadi ya semangat aja. Melewati kampus utama UI dengan ribuan pikiran melintas di dalam otak.

Saya gak tau jalan dan informasi sama sekali untuk menuju Mesjid Kubah Emas, jadi ngandalin si Fahmi aja, gak taunya dia juga meraba-raba jadilah kita jalan2 dulu (dibaca: nyasar), makin lama rasanya makin jauh, akhirnya nanya ke pak supir yang sedang bekerja dan kita disuruh ambil angkot balik nyasarnya udah jauh. Sampai di terminal Depok nyambung angkot lagi ke arah Parung, dan lagi-lagi salah, angkot yang kita naiki gak langsung melewati Masjid, jadi turun lagi trus sambung lagi.

Akhirnya sampai tujuan tepat waktu Ashar, Alhamdulillah bisa langsung shalat jamaah tanpa telat. Selesai shalat saya mendapati sesuatu yang berbeda saat setelah dzikir dan sebelum do'a, Imamnya mengajak jamaah untuk ikut mendoakan pendiri mesjid beserta keluarganya. Saya langsung mikir betapa beruntungnya mereka diberi rezki seperti ini, terbayang 5 kali sehari dengan pengunjung mesjid yang selalu ramai dan mendoakan si pendiri mesjid beserta keluarganya, jika paling sedikit 1 orang aja doanya dikabulkan Allah sudah Alhamdulillah apalagi kemungkinannya sebanyak itu, Subhanallah, semoga niat tulus pendirinya itu menjadikan pemberat amalan beliau nanti di akhirat kelak, aamiin.

Selesai shalat saya berniat mengeluarkan camera, tapi langsung lihat tulisan dilarang berfoto di dalam mesjid, yak sepertinya si pengurus mesjid menyadari akan banyaknya pengunjung yang mau berfoto dengan latar interior mesjid nan indah dan mewah, dan takut menggangu kenyamanan jamaah lain yang sedang beribadah, bagaimanapun mesjid adalah tempat ibadah bukan tempat rekreasi untuk berfoto2 apalagi sampai lebih mengagumi mesjidnya dari pada tuhannya sendiri, saya menghargai itu tapi tetap mencuri foto dengan HaPe dari tempat duduk jadi tidak mengganggu jamaah lain, :D (nggak ngeles kok).


Mihrab


Eksterior Masjid

lampu hias di tengah-tengah kubah bagian dalam seberat 2 ton yang di datangkan dari Italia.

Setelah itu kita keluar lagi nyari makan kelaparan dengan perjuangan menuju masjid ini. Saat lagi makan tiba-tiba hujan deres banget, pas selesai makan hujannya berenti juga, Subhanallah, Allah maha baik. Kita balik lagi ke dalam, rencananya sekalian maghrib, tapi berhubung waktunya masih agak lama, jadi kita muter2 dulu liat sekitar masjid ada apa aja. Rupanya di sebelah masjid ada rumah pendirinya, gak kalah mewah juga, sekilas saya merasa suasananya mirip di depan gerbang kerajaan Malaysia, trus berasa di kayak di dalam kisah aladin atau 1001 malam gitu, di tengah padang pasir ada kerajaan megah, halah imajinasi yang aneh.

Abis maghrib ternyata hujan lagi, kayaknya kita disuruh sekalian sampe Isya aja disini. Menunggu Isya kita duduk di dalam masjid aja kebetulan setiap malam Jumat di masjid ini jadualnya Yasinan, pas banget deh. Selesai Isya hujannya sedikit reda, kita jalan keluar gerbang dan nyasar lagi, gerbangnya salah, udah tutup, terpaksa balik lagi dan jalan mutar.

Nunggu angkot lagi, awalnya pengen angkot yang langsung menuju terminal Depok biar gak nyambung2, tapi gak dapat angkotnya terpaksa deh nyambung2 lagi. Melengkapi petualangan kita baliknya pake kereta commuter line yang baru, lumayan meskipun berdiri, nyampe jakarta udah gak ada angkot lagi terpaksa naik taksi, nyampe kosan langsung tepar.

Note:
1. Referensi lain untuk mesjid ini bisa dibaca disini
2. Kalau tidak salah ada suatu hadist yang berbunyi : “Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba membangun dan memperindah masjid-masjid” (HR. Abu Dawud). kenyataannya ini memang sudah akhir zaman, mari ramaikan mesjid, tidak hanya memperindah dan membangunnya saja (# nasehat diri)
3. Sepulang dari sini saya menemukan ada 7 Masjid di dunia yang berkubah emas lainnya, (ada yang tau apa yang terlintas dalam pikiran saya?? yak itu lah dia, doakan saja supaya saya bisa mengunjungi semuanya. Gak masalah saya gak bisa bangun mesjid nan megah, doakan supaya saya bisa shalat 5 waktu ke mesjid aja :D)

Jumat, 01 Juli 2011

Hijrah

Berawal saat memasuki tahun 2011, saya mulai memikirkan resolusi yang akan saya capai ditahun ini. Salah satu yang masih pending dari tahun kemaren adalah menemukan kerjaan baru yang lebih baik, karna saya sudah terlalu sering mengeluh dan tidak bersemangat bekerja dengan keadaan saat itu. Bulan Februari saya dapat kesempatan pergi berlibur yang rencananya sama Uni sekeluarga tapi batal, plan B-nya solo backpacker tapi seminggu mau berangkat ternyata Haris berminat untuk gabung. (cerita sebelumnya di Jalan-jalan Jalan 1Jalan-jalan Jalan 2, Jalan-jalan Jalan 3, Jalan-jalan Jalan 4, Jalan-jalan Jalan 5 )

Pulang dari liburan yang begitu seru tapi capeknya minta ampun, ternyata hanya bertahan seminggu yang membuat saya fresh lagi. Dua minggu setelah itu kembali lagi perasaan jenuh, bosan, gak karuan kembali merasuki. Kerjapun saya jadi uring-uringan, kalau gak ada kerjaan di kantor saya balik ke kos tidur-tiduran sambil nonton. Terakhir sampailah saya ke titik puncaknya, saya merasakan sedih yang sangat luar biasa tapi herannya gak tau penyebab pastinya apa, tiba2 air mata saya keluar mengalir, dua hari saya merasakan ini bahkan di kantor juga. Saya bawa shalat, ngaji, dan sejak saat itu saya berusaha untuk shalat berjamaah di mesjid, dan bertekat untuk bisa khatam alquran.

Pulang dari shalat subuh saya ngaji menunggu pagi sebelum berangkat ke kantor, saat itu saya sudah sampai di surah An Nissa ayat 97 yang artinya "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri [342], (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?". Mereka menjawab : "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata : "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali". Saya merinding saat membaca bagian "bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu", siangnya di kantor saya makin mantap untuk memutuskan resign dari pekerjaan sekarang.

Weekend saya pulang ke Bukittinggi, curhat habis2an sampai nangis lagi sama Apa dan Ama, tapi setelah itu jadi lega, mereka memberikan pencerahan yang membuat saya makin mantap. Balik kantor saya langsung mengajukan surat resign, koordinator sayapun kaget dan menyuruh saya untuk memikirkannya lagi bahkan kalau bisa jangan resign. Waktu seminggu yang diberikan saya gunakan untuk searching lowongan kerja, dengan Bismillah apply sana-sini. Gak tau kenapa saya bahagia memikirkan resign, padahal belum ada kerjaan baru yang akan menampung, kalau kata teman2 saya konyol, tapi saya yakin rezeki Allah itu gak berpintu yang datangnya gak akan terduga-duga.

Awal April saya resmi mengajukan surat resign itu berati per May saya resmi keluar dari pekerjaan. Dan rezki Allah itu memang tidak diduga-duga datangnya, 2 minggu menjelang saya resmi keluar, ada telpon dari salah satu perusahaan yang saya pada saat apply-nya saya gak begitu berharap banyak, karna sudah berpengalaman dengan perusahaan sejenis sebelumnya, tapi ya itulah Allah selalu memberikan melebihi apa yang kita bayangkan. Rasanya prosesnya juga dimudahkanNya, beberapa kali saya mengikuti recruitment rasa penuh dengan deg-degan apalagi yang terakhir yaitu di Bank Indonesia, banyak orang menginginkan untuk bisa masuk bekerja disini, tinggal beberapa langkah lagi saya digagalkan oleh Allah dengan cara lain. Mungkin untuk meluruskan niat saya yang memilih resign dari perusahaan sebelumnya karena banyak mengandung unsur riba, jika saya bekerja di bank ya itu berati sama saja, kecuali yang murni syariah.

Rencana awal saya setelah resign:
1. Mau istirahat dulu satu atau dua bulan, me-refresh pikiran dan semangat sebelum memasuki kerjaan baru (yang ini pengennya.. :D)
2. Persiapan Menikah, saya tau ini konyol seperti kata orang kebanyakan, tapi saya teringat nasehat seorang teman (bang Sauki Nursyam, semoga beliau diberkahi Allah) dulu kepada saya tentang standar kematangan financial untuk menikah "jikapun saat ini anda punya harta berlimpah, ada yang bisa menjamin kalau besok itu masih ada, dan kalaupun saat ini anda tidak punya apa-apa ada yang menjamin besok anda masih gak punya apa-apa?" yang penting niat baik dan usaha, halah emang jaman sekarang masih ada yang mau sama yang kayak beginian ya..?

Dan lagi2 Allah itu Maha Baik, hampir sebulan dengan status pengangguran saya mulai merasakan bosan, apalagi kalau lihat tabungan yang makin menipis. Sepulang dari berkunjung ke tempat Uni di Rengat saya dihubungi untuk keputusan bahwa saya diterima bekerja, Alhamdulillah dan hebatnya lagi saya diberi waktu 2 minggu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Waktu yang diberikan saya anggap sebagai liburan aja sebelum berangkat merantau. Ada kenikmatan yang luar biasa juga disaat menunggu waktu berangkat saya ke Jakarta, ikatan emosional saya dengan seluruh keluarga terasa sangat dekat sekali dan rasanya sangat menentramkan dan membuat saya makin yakin untuk menatap tantangan baru yang akan saya hadapi nantinya, teman bisa saja datang dan pergi tapi tidak dengan keluarga, mereka selalu ada.

Pas mau berangkat dikasih lagi nikmat, tiba2 sahabat saya Haris dapat tugas ke Padang dan balik ke Jakarta kita bareng. Benar2 bersyukur dengan semua perjalanan itu, saya seperti dituntun oleh Allah, sampai di Jakartapun saya rasanya di dekatkan dengan orang2 yang menginspirasi yang membuat saya makin belajar. Meskipun kenyataannya hidup di Jakarta gak seperti yang saya bayangkan di awal, tapi InsyaAllah saya akan tetap bersyukur, menikmati proses, dan mengambil pelajaran, karna aku yakin Allah akan menuntun ke titik yang lebih baik InsyaAllah.

Sabtu, 14 Mei 2011

judulnya sih pergi interview kerja

Long weekend bulan Juni kemaren saya ada panggilan interview kerja ke Jakarta, tapi entah kenapa persiapan saya itu 50% buat interview 50% lagi buat jalan2 ngumpul sama teman2. Pas mau berangkat saya agak ngeri2 sedap juga ngebayangin Jakarta, transportasinya yang masih semrautan, tingkat kejahatan dan kesenjangan sosial yang tinggi, bikin saya miris, kenapa malah di negri sendiri saya merasa cemas bepergian dibandingkan backpackingan di negri orang. Tapi ya gimana lagi harus dihadapi.

Tujuan utama tentunya interview, namun itu cuma hanya menghabiskan setengah hari aja, setelah itu saya bingung mau kemana, mana gak tau jalan juga. Setelah telpon, sms sana-sini, akhirnya saya nunggu Haris di bandara SOETA aja yang baru berangkat dari Surabaya. Malamnya saya nginap di rumah Haris bersama uni dan kebetulan juga ada mamanya yang nungguin si Uni mau lahiran, ada adik Haris juga waktu itu. Cuma butuh beberapa saat saja kita udah langsung tepar karna kecapekan kali ya..

Jumat pagi diawali shalat ke mesjid, abis itu siap2 kita mau jumatan di mesjid Istiqlal, sekalian janjian ketemu sama mantan teman kerja saya Rahmanul. Ketemu Manul (panggilan kesayangannya Rahmanul) ngobrol sebentar kita langsung masuk mesjid. Ini kali pertama saya ke Mesjid yang katanya terbesar se asia tenggara ini. Karena jumat jamaahnya sangat ramai jadi saya gak sempat menikmati bangunan ini, hanya fokus untuk shalat jumat aja. Beruntung khutbah jumat dibawakan oleh ustad Arifin Ilham, pesan khutbah jumatnya bikin saya tak henti2 merinding teringat dosa, kelalaian dan tujuan hidup sebenarnya. subhanallah alhamdulillah allahuakbar..
Interior Masjid Istiqlal

Selesai jumatan personil kita nambah satu temannya manul, gak tau tujuan kemana akhirnya ke gramed trus mall arion (kalo gak salah), setelah itu saya jemput tas ke tempat Haris, berhubung haris mau ada acara dan si manul juga ngajak nginap di kosannya. Shalat maghrib di toko Rabbani sebuah toko perlengkapan muslim. Yang menarik dari tempat ini adalah bagian depan tokonya, kalau pada umumnya toko menggunakan bagian depan untuk memajang barang dagangannya kalau ini digunakan untuk mushalla, hebaat. Setelah sempat liat-liat dulu sebentar akhir kita pamitan dengan Haris dan menuju ke tempat Manul. Turun busway kita diserbu hujan deras plus petir, sambil nunggu azan Isya pun terdengar, ternyata di depan ada mesjid, yaudah dari pada nunggu gak jelas mending kita shalat aja dulu.


Subhanallah selesai shalat tenyata bener hujannyapun agak reda meskipun masih agak gerimis. Kita jalan ke tempat kos nya teman Manul untuk jempt motor, trus nyari makan dan sampelah di kosannya Manul. Disini saya sempat termenung dan menyadari inilah Jakarta, kosan cewek-cowok nyampur ya biasa aja. Saya sempat terperangah melihat salah seorang teman kos nya tempat Manul ambil motor tadi kalau teman cowoknya nyantai aja bertamu masuk ke kamar. Untuk masalah ini saya kangen dengan suasana Padang dimana kontrol sosialnya masih tinggi. Bus kotanya selain bagus dan full music juga secara sadar tanpa peraturan tertulis penumpangnya membagi dua bus dimana bagian depan penumpang cewek dan bagian belakang cowok.

Esok harinya kita berencana mau main ke ancol janjian sama mantan teman kerja juga Tya, jadi judulnya reunian eks karyawan PT ***. Sejak awal ketemu gak berenti2 ngobrol dan cekikikan, padahal kita cuma bertiga tapi hebohnya kayak sekampung. Kayaknya sampe ancol kita timing nya salah, panas banget, cuma sempat poto2 sebentar, abis itu nyari makan, shalat, trus kita menuju ke tempat lain aja, ke Jakarta Kota.


Di Jakarta Kota kita nyasar ke museum Bank karna gratiscuma nunjukin ATM bank yg bersangkutan aja. Di dalam bukannya merhatiin apa isi museum malah kita poto2 bodoh2an. Keluar dari sana kita lanjut ke bangunan tua lainnya, pengennya poto2 juga tapi ternyata pengunjungnya lagi rame banget jadi gak seru malah sempat ketemu orang gila yang lagi marah2ain pasangan yang lagi poto prewed hahaha..

Disini juga saya ketemu sama teman wushu dulu waktu di Unand, Ira bersama temannya, dari sana kita akhirnya mutusin keluar dari Kota trus nyari yang dingin2 keluarlah idenya Tya pengen ke ice cream italia yang ada di Juanda samping Istiqlal, saya yang gak tau nurut aja. Ira dan temannya duluan pake motor kita bertiga naik busway.

Sebelum ke TKP kita shalat dulu di Istiqlal lagi, asiik. Untung Ira udah duluan jadi bisa mesan tempat, ternyata pengunjungnya rame pake antri segala, udah gitu pas pulangnya ditraktir Ira pula sedaaap. Keluar dari makan Ice cream kita balik ke Istiqlal shalat maghrib sebelum lanjut ke tujuan berikutnya Monas, hahaha kayak dari mana aja gitu yah mainnya ke Monas, niatnya sih mau nyari makanan pinggir jalan. Nyampe Monas malah ketemu sepeda trio yang bisa boncengan 3 orang, timbulah ide menggila, kita sewa 20 ribu selama 45 menit. Muterin monas gak henti2nya cekakakan ngebayangin penderitaan sepeda diboncengin 3 orang yang kayak begini, ternyata seru juga. Lagi muter ketemu kerumunan orang ternyata ada yang baru di monas air mancur yang diberi efek cahaya keren juga kayaknya. Kita buru2 balikin sepeda mau liat ternyata pas nyampe TKP pertunjukan udah selesai, sial. Yaudah tujuan dialihkan ke tujuan utama aja nyari makanan, dan disini sial lagi niatnya pengen makanan murah tapi seru yang ada malah dibawah standar udah gitu muahal pula, kapook gak lagi2 deh kesana.



Pulang dari sini saya langsung packing karna subuh2 harus ke bandara balik lagi pulang. Di Bukittinggi juga udah ada jadual janjian berikutnya (halah sok sibuk) dengan si sobat lainnya Rika Daniel, kebetulan dia lagi pulang kampung, kan jarang2 kita bisa ketemu. Sama Rika di traktir pula, aseeek.

Yaudah itulah jadual interview saya ke Jakarta yang sebagian besar malah jalan2 hehehe..

Jumat, 13 Mei 2011

Kerajaan Melayu di Rengat

Sudah 5 hari resmi saya menganggur karna saya baru resign dari pekerjaan yang lama, menunggu dapat kerjaan baru saya berniat mau jalan2 refreshing dulu lah sebelum masuk dunia kerja lagi. Kebetulan Sabtu 7 Mei, ponakan saya yang kecil ulang tahun dan si mama ngajakin kesana biar bisa bantu2.

Sebenarnya Jumat dari pagi saya ada keperluan dan kalau menurut rencana harusnya jam 2:30 WIB udah selesai, beruntung hanya molor sedikit. Dan menurut jadual juga mobil travel jemput ke rumah biasanya abis Ashar, yaudah buru packing baju, onderdil segala macam buat persiapan 3 hari, separuh tas dipenuhin sama camera hehe.

Nyampe di Rengat jam 4 dini hari, masih kleyengan gak bisa tidur di mobil, abis Subuhan saya tidur lagi sampe akhirnya dibangunin sama si ponakan yang sok malu2. Oh iya hari ini Gibran ulang taun, ternyata meskipun baru 2 tahun dia ngerti kalo hari ini lagi ultah, ckckck anak jaman sekarang :P. Rengat kotanya panas, saya udah gak bisa nyenyak lagi tidur, yaudah mandi trus main gangguin Gibran, ponakan saya yang besar Luthfi masih di sekolah.

Para ibu2 udah sibuk aja di dapur ngurusin makanan yang mau di bagi2in ke panti asuhan, teman dan tetangga. Aku bangun tidur kelaparan langsung mbat apa yang ada aja hehe. Abis Zuhur kita bertolak ke TKP, panti asuhannya blom pernah dikunjungi jadi nyari dulu meraba, setelah ngikutin petunjuk yang dikasih sempat nyasar juga dulu akhirnya ketemu, di baliknya kuburan cina ternyata.

Selesai membagikan sedikit rejeki, anak2 disini memberikan yang lebih besar kepada kita, doa buat yang berulang tahun, suasananya berubah menjadi haru, termasuk saya rasanya seperti tertampar, betapa saya jauh lebih beruntung dari mereka, namun saya masih aja sering mengeluh dan lupa bersyukur, astaghfirullah..(T-T)


Sorenya saya baru teringat kalau di rengat ini pernah ada kerajaan melayu, dari pada gak ngapa2in juga rasanya saya udah lama gak liputan *halah, buat foto sama blog juga jadinya semangat. Setelah dapat petunjuk dari si Uni saya dan Luthfi pun berangkat. Luthfi gak mau ikut rombongan yang pake mobil dia memilih dengan saya pake motor, tancaap. Ternyata gak jauh dan susah juga nemuin replika istananya, setelah saya dekati hati ini jadi sedikit miris, sayang sekali gak terawat, banyak kambing yang nyari makan rumput yang udah tumbuh liar di pekarangan istana. Saya secara gak sengaja lagi2 membandingkan dengan negri tetangga, betapa mereka menghargai budaya melayunya dan juga peninggalan2 sejarahnya yang dirawat dengan baik :(

Istana dilihat dari pinggir danau Raja, Rengat
pintu masuk istana

bersama Luthfi dengan background Istana

Selasa, 19 April 2011

Parabek nan Damai Sejak Dulu

Seperti weekend biasanya saya selalu ngacir pulang kampung ke Bukittinggi, tapi kali ini rasanya agak sedikit berbeda karna saya sambil mempersiapkan rencana untuk bulan depan, bukan traveling lagi tapi ini masalah kerjaan.

Anyway, saya selalu riang gembira ketika meluncur menuju kampung, duduk dalam bis paling pinggir samping jendela yang besar memandangi pemandangan sawah dan danau. Waktu itu juga lagi hujan gerimis, terasa makin nikmat memandangi air yang menari-nari di kaca, ditambah waktu itu ipod saya sedang memainkan lagu2 ber-genre emo,  wuiiih jadilah saya berasa berada didalam sebuah film-film drama gitu (lebay hahaha).

Sebenarnya begitu sampai di rumah saya juga gak punya planning apa2 sih untuk weekend, semangatnya mikirin pulang aja hehe. Ehh tapi weekend ini sahabat saya Haris katanya lagi di Pekan Baru, dan kalau sempat dia akan pulang kampung juga. Baiklah saya makin senang karna ada teman buat keluar.

Ritual yang biasa saya lakukan jalan dengan haris kalau waktunya mepet cuma sehari palingan main ke pasar atas-nya Bukittinggi, hunting beberapa barang, trus makan di H. Minah sama teh pak Hau sambil berbodoh2 dan ngobrolin tentang nikah, gak tau kenapa kalo dengan haris saya sering banget ngomongin tentang nikah. Pas pulang menuju rumah haris tiba2 saya dapat ide untuk shalat maghrib di mesjid Parabek, Parabek adalah madrasah tawalib swasta yang sangat terkenal, lulusannya banyak juga yang melanjutkan ke Univesitas Al Azhar Mesir dan melahirkan orang2 besar lainnya yang sangat berpengaruh.

Parabek ini sebenarnya dekat banget dari tempat kita (rumah Haris dan saya) tapi karna selama ini saya gak terlalu tertarik soalnya disitu isinya anak santri semua, kalo sekarang tertariknya berhubung saya lagi berusaha tobat dan sekaligus mencari wanita muslimah (hahaha ketauan niat aslinya) jadi yah pengen nyobain sensasi shalat di tengah2 para santri.

Setelah pamit sama keluarga Haris kita muter2 dulu, kebetulan waktu shalatnya juga masih lama, sekalian manyilau (dibaca: menikmati pemandangan). Dari luar terlihat mejidnya memang bangunan lama tapi masih bagus dan kelihatan sangat terawat, dari luar kita bisa mengintip interiornya yang sedikit keliahatan mewah melalui pintu masuknya. Setelah 3 kali muter2 baru para santrinya keliatan udah ramai dan kitapun ikutan merapat. Saya mulai merasakan sesuatu, dari sudut penglihatan saya melihat para santri ini memerhatikan kita, ketahuan banget kalau kita memang orang asing disini. Semua pada pakai baju muslim dan sarung sementara kita t-shirt + jeans + jaket.

Memasuki mesjid saya sangat merasakan sensasi yang keren, saya langsung penasaran dengan sosok Syekh Ibrahim Musa yang mendirikan pesantren ini. Interiornya ketahuan banget kalau ini adalah mesjid tua, tetapi sangat terawat, dan aksen2 di dalamnya dipercantik dengan gorden dan pencahayaan yang bagus, yang makin menarik hati, hebaat, saya jadi pengen masuk pesantren.

Menjelang shalat para santri sudah rapi membuat syaf, kalau biasanya saya melihat jamaah duduk berserakan, kalau disini mereka langsung tertib merapatkan dan merapikan syafnya. wuiihh.. Imam dipimpin oleh seorang yang berperawakan arab atau india saya lihat, berbaju gamis dalam melebihi mata kakinya. Selesai shalat dzikir dan doa dipimpin oleh santri yang ada di belakang imam, masih kecil, kira2 berumur 11 atau 12 tahun tapi bacaannya bagus, saya meresa kena tampar. Sayup2 saya perhatikan ternyata santri yang lain mengikuti bacaannya, saya menyimpulkan memimpin dzikir dan doa ini merupakan tugas bergilir seperti piket gitu. kalau saya dapat giliran waktu itu mungkin mereka bakal timpukin saya kali yah.

Keluar mesjid saya sempat2in nyuri poto interior mesjidnya, pas nyampe motor ee mati lampu, si Haris yang lagi mainin gadget barunya ngambil inisiatif jadiin senter biar para jamaah gak salah nyariin sendal mereka. (semoga makin berkah tuh gadget baru)

interior mesjid Parabek

Pas lagi (masih) berbodoh2 dengan gadget baru tiba2 imam tadi lewat di depan kita sambil ngucapin assalamualaikum antara ada dan tiada, trus berlalu begitu saja. Yasudah kita juga ngacir deh..